Betapa beberapa tempat memang punya arti tersendiri dalam hidup

Diantaranya akan membuat saya tersenyum sungging ketika diingat, dan sebagiannya lagi membuat saya merenung serta meringis kecut, direnteti perasaan menyesal dan tidak.

Tempat-tempat itu mungkin tidak sengaja saya temui, seperti sebuah entitas antah berantah yang bahkan namanya saja sama sekali asing di telinga. Sebut saja Besuki, sebuah entah yang tersimpan di hati kecil saya ketika melakukan perjalanan dengan dua teman lelaki bodoh dan slengean. Atau Masawah, sebuah entah yang lain yang selalu berhasil membuat saya jatuh terhadap cerita selama satu bulannya.

Tempat lain memang sengaja saya datangi, saya singgahi, dan tanpa saya sadari menjalar ke dalam perasaan.

Ia adalah Jatinangor, sebuah wajah dengan senyum kembang sederet gigi, bahak tawa, kusam kusut, dan sembab penuh air mata. Tak bisa lagi saya deskripsikan Jatinangor dengan abcdefghijklmnopqrstuvwxyz karena ia adalah saksi berkembangnya saya menjadi saya. Yang menemani saya memahami Zarathustra hingga dini hari, yang membangunkan saya untuk mengajar bahasa inggris di tengah huru-hara tugas kampus, yang menyeret saya kepada manusia-manusia maha brengsek dan menyenangkan, dan yang membuat saya jatuh bangun jatuh bangun karena perasaan. Tempat itu adalah Jatinangor, selalu Jatinangor, yang mengambil beberapa bagian dalam hati dan kepala.

Hati saya juga punya fragmen untuk Jakarta, ruang yang kerap membuat saya waras dan gila sekaligus. Jakarta adalah apa yang saya ciptakan untuk menyadarkan diri bahwa satu-satunya yang membuat para homo ekonomikus bertahan hidup adalah harapan. Dari Jakarta saya hidup kemudian mati kemudian hidup lagi. Setidaknya, begitulah cara Jakarta menjungkirbalikkan saya.

Lalu, Serang. Bagian paling pertama dalam peremajaan. Tentang menjadi telinga dan keras suara. Menjadi teman, kakak, adik, ibu, ayah. Yang membuat saya mudah dan susah tidur. Tiga tahun paling tak bisa ditebak karena banyak sekali pengalaman.

Pun, Thailand. Yang selalu saya nantikan. Ia adalah badut berhidung bundar di tengah pasar malam. Bahwa di tengah gelap selalu ada yang membuat tertawa. Satu bulan setengah paling bahagia menjadi warga negara asing. Thailand selalu menjadi pengingat bahwa kebaikan adalah bahasa universal dan bagaimana menghadapi perbedaan yang tak pernah sama seperti di buku kewarganegaraan dulu.

Hati saya pula selalu tersisa untuk Madasari, Menganti, Parai, Cikuray, Papandayan, Prau, Sindoro, dan Gede. Mereka adalah apa yang selalu menelanjangkan perasaan. Yang membuat saya mengingat, merancang, meracau. Yang selalu menyadarkan kalau ada entitas paling Maha yang lebih besar dari apapun, dan saya hanya titik kecil dari segala yang Ia ciptakan. Saya adalah apa, bukan siapa, di hadapanNya.

Saya sadar, betapa beberapa tempat memang punya arti tersendiri dalam hidup.

Betapa mereka akan terus mengingatkan kalau hidup adalah tentang perjalanan-perjalanan kecil yang tetap membuat kita menjadi manusia.

 

Advertisements

Menulis bebas

1

Belakangan ini saya benci melakukan basa-basi. Kegiatan itu sangat menguras energi untuk memproduksi kalimat normatif dan senyum yang disungging-sunggingkan. Mungkin ternyata saya butuh istirahat dari menjadi adaptatif, karena layang-layangpun akan tiba pada situasi menyangkut di pohon, atap, atau kabel listrik.

2

Saya sedang nyaman dengan bermonolog. Saya akan merekam omongan saya menggunakan perangkat canggih abad ini; telepon pintar. Saya akan berbicara apa saja; perihal kegiatan saya satu hari penuh, perihal perasaan yang sedang saya alami, atau perihal pendapat saya mengenai sesuatu. Saya mengeluarkan semuanya; setelah itu rekaman monolog tersebut akan saya dengarkan ulang. Mungkin saya sedang bosan dengan menulis dan ternyata monolog adalah pengganti sementara yang tepat untuk meluapkan perasaan. Kadang kamu tak perlu orang lain untuk bercerita, kan?

3

Kepala saya masih menjadi gudang terjorok di dunia. Ia terus memproduksi barang-barang yang sudah tidak bisa dipakai dan segala yang mungkin dilupakan namun masih bisa digunakan. Saya tak mampu membersihkan walaupun sapu, kemoceng, pengharum ruangan sudah tersedia di hadapan. Saya tak mampu, atau tak ingin. Saya tidak paham.

4

Sementara pikiranmu jelas dan mempunyai alur, punya saya kok rumit sekali. Ia lapang dan bebas untuk diisi apapun. Ia tak sesederhana kalimatmu yang berkali-kali kau teriakkan. Pikiran saya mengambang; dan di sela-sela itu masih terpajang bau tubuhmu, walau akan saya jatuhkan atau saya peluk hingga saya padam.

5

Saya butuh menjadi puas. Walau saya tau bahagia bisa didapat dari hal-hal sederhana, namun saya butuh merasa puas. Mungkin bisa saya dapat dari berjalan jauh sendirian, menerbitkan buku, atau pada akhirnya saya bisa mendaki gunung lain lagi hingga sebelum saya memejamkan mata, saya akan berucap syukur karena saya sungguh puas atas sebuah hal yang sudah saya lakukan.

6

Perasaan saya tak butuh dipahami, tak perlu dibalas, tak usah dipikirkan. Saya tau kalau tak semua hal mesti resiprokal. Mungkin saya butuh ketidakadilan.

7

Saya selalu sedih seusai mendapat senang. Saya lupa kalau hidup adalah lingkaran yang tak pernah berhenti berputar.

Mengapa?

Mengapa kita mati-matian mencintai manusia, berapi-api bilang berusaha mencintai dengan tulus, asalkan seseorang itu bahagia karena titik paling tinggi mencintai adalah ketika kita tidak lagi memikirkan perasaan sendiri.

Mengapa kita mati-matian mencintai manusia, padahal manusia banyak sekali maunya dan sulit dipahami.

Mengapa tidak kita mati-matian mencintai Tuhan, tak perlu berapi-api untuk mencintaiNya dengan tulus karena Ia tak pernah minta apapun selain kebaikan dan kepercayaan bahwa Tuhan selalu mencintai kita walaupun kita abai menyapanya sesekali.

Mengapa tidak kita mati-matian mencintai Tuhan, padahal Ia selalu ada, dekat, dan memberi kita napas untuk mencintaiNya.

Mengapa tidak kita mati-matian mencintai Tuhan dengan titik tertinggi karena ketika kita bahkan tidak lagi memikirkan diri sendiri demi mencintaiNya, Ia akan sepenuh hati memberi yang paling baik untukmu. Kehidupan indah setelah kematian.

Bukankah kita semua akan mati?

Mengapa kita mati-matian mencintai manusia, yang mungkin tak pernah memberi kita apa-apa.

Perjalanan

Bagaimana mendefinisikan perjalanan?

Untuk beberapa keadaan, saya bukanlah seseorang yang selalu memegang prinsip que sera-sera dan akan berpikir paling sederhana guna melanjutkan hidup. Saya kerap berkelana dengan pikiran-pikiran saya sehingga memunculkan hasil akhir macam ‘hidup kok gini amat ya’ atau ‘susah ya jadi manusia’ dan sebagainya dan sebagainya.

Tapi sebenarnya hidup memang tentang yaudah jalanin dulu aja, wong spesies-spesies serakah ini sudah terlanjur diturunkan ke bumi, mosok mau maksa dibalikin lagi? Kan ndak. Dan pada akhirnya pun yang kita lakukan hanyalah berjalan. Kita semua harus melakukan perjalanan. Apa itu? Saya juga tidak tahu.

Tiap-tiap kita mungkin berbeda mendefinisikan perjalanan. Saya akan mengartikan perjalanan saya dengan bagaimana saya bisa melangkahkan kaki dan dengan lancar mengucap mama ketika saya berumur dua atau tiga tahun. Lalu berlindung di balik ketiak bapak ketika ada orang besar yang mengajak saya berkenalan.

Saya tumbuh jadi seseorang yang pemalu. Yang tidak akan pernah mengajak bicara duluan, yang insecure dengan tubuh saya yang tambun, yang selalu menganggap diri saya jelek, yang tidak pernah tahu apa yang saya mau. Hingga pada titik yang mungkin tak pernah bisa saya bayangkan; saya dijauhi dan ditertawakan banyak orang.

Sejak saat itu, saya berjalan mundur. Saya menghilang. Saya menjauh dan tak pernah ada keinginan untuk berlari kencang, yang bisa saya lakukan hanyalah berjalan saja. Pada sebuah sudut saya singgah sebentar. Saya menemukan ruang yang membuat saya merasa nyaman, sungguh nyaman, sehingga kenyamanan itu membuat saya takut melintasi perbatasan. Menjadi remaja tanggung yang senang ikut-ikutan teman dengan mimpi yang dimimpi-mimpikan.

Saya mengenali diri saya, mungkin separuh, tapi terkungkung dengan apa-apa yang belum saya ketahui. Yang saya tau saat itu saya tidak boleh berhenti, saya hanya harus terus berjalan. Lalu di tengah-tengah berjalan itu, semakin lama saya menemukan diri saya. Saya berdiri di depan sebuah entitas yang akan mengantarkan saya pada proses menikmati hidup.

Saya memulai semuanya dari sana. Saya berlayar hingga titik paling jauh. Saya mendaki puncak ketakutan saya. Saya melompati batas tertinggi dan sesekali mencoba berlari kencang, biarpun kerap terjatuh. Namun yang saya lakukan adalah kembali bangun dan memutuskan untuk berjalan lagi.

Dan sekarang saya masih berjalan, menjadi seseorang yang senang menertawakan dirinya sendiri. Yang mengerti bahwa penampilan luar dan dalam harus diberi asupan, karena apalah fisik indah namun dangkal berpikir dan sebaliknya. Saya yang belajar bahwa kunci kebahagiaan adalah menerima. Saya yang sudah tidak terengah-engah memahami diri saya. Saya yang tiga perempat mengenali saya—semoga. Dan saya yang sudah sampai pada jalan ini. Sejauh ini.

Lantas apakah perjalanan itu sebuah perubahan? Mungkin iya, mungkin tidak. Buat saya, perjalanan adalah keseluruhan ruang yang pernah kita singgahi. Ia tak melulu maju, tak melulu senang, tak melulu di atas. Perjalanan adalah bagaimana saya sebentar menahan laju untuk kemudian menengok ke belakang. Ia adalah kembali merekam untuk mengingatkan bahwa sebagai manusia, kita sudah sanggup bertahan sejauh ini. Ia juga menjadi tempat berdiam diri karena terlalu jengah terhadap sesuatu. Ternyata, perjalanan adalah saya sendiri. Dan pada akhirnya, perjalanan adalah proses menjadi manusia.

 

Belum habis

: Th

Kepalaku adalah suar yang mungkin tak pernah kamu semogakan;

-koyak ditebas rasa bersalahmu

Sedang kamu menggagu pada tiap rumit yang aku selesaikan

 

Tenangmu hanya butuh kesederhanaan,

Padahal punggungku adalah labirin yang tersesat ditelan lampau

Menggali yang dulu pernah kobar

 

Mungkin benar begini mestinya:

Kita saling memeluk dengan hulu

Bernapas batas

Dan segera habis dalam titimangsa.

Tentang melamun

Saya manusia normal. Saya ingin dianggap biasa dan terkadang mau dinilai beda. Saya akan berpura-pura semangat ketika pagi dan menangis kecil sebelum tidur hanya karena teringat cerita-cerita yang belum selesai. Saya kerap berpikir untuk menyerah ketika saya lelah. Saya juga mau menjadi terkenal karena sebuah karya. Saya juga manusia, yang juga, suka melamun.

Tak punya pekerjaan tetap belakangan ini membuat melamun menjadi kegiatan yang menyenangkan buat saya. Melamun adalah sebuah eskapisme yang karenanya saya tak menjadi seserius para politikus, tak sesedih tokoh pria dalam buku Olenka, pun tak sebercanda Tukul Arwana. Ia tak membutuhkan apa dan siapa. Ia menjadi batas antara, yang bisa menyadarkan saya bahwa untuk merayakan kehidupan adalah dengan membuat proyeksi sejenak di luar realita.

Saya bisa membayangkan apa saja. Membuat cerita tentang keluarga saya sepuluh tahun ke depan sampai membayangkan Donald Trump menjadi Donald Duck, karena jangan-jangan pilpres kemarin itu cuma fiksi. Ia juga bisa menghadirkan kenangan tengik dan rencana absolut selama satu hari ke depan. Melamun membuat saya mengingat sekaligus melupakan. Ia adalah aktivitas yang sungguh paripurna untuk dilakukan di mana saja; di rumah, di kamar mandi, di commuterline, di bus transjakarta, di mall, di taman kota.

Satu hal; melamun tak harus memikirkan sesuatu, apa yang juga saya senangi adalah melamun tanpa memikirkan apa-apa. Kosong. Tiba-tiba saya menjadi manusia paling subtil sealamsemesta. Melamun tanpa perlu melibatkan neuron di kepala. Waktu saya berhenti. Kehidupan saya terspasi. Wah, menjadi kosong karena tak memikirkan apa-apa ketika melamun adalah pengalaman paling menakjubkan. Serius.

Mungkin saya gila, atau sudah gila. Siapa yang gila? Siapa tau mereka yang gila adalah waras dan yang waras adalah yang sebetulnya gila. Karena ada peneliti yang bilang kalau melamun berlebihan itu termasuk kelainan yang disebut maladaptive daydreaming. Tapi Freud bilang melamun wajar saja, karena itu termasuk salah satu cara untuk meredakan konflik. Dan manusia mana yang tak punya konflik? Lagipula melamun hanya saya lakukan ketika saya sendirian. Daripada terus menerus terjebak oleh kegiatan repetitif seperti baca buku, menonton film, membuat puisi, atau basa-basi dengan orang asing, lebih baik saya berkecimpung dengan kepala dan fantasi saya sendiri. Melamun.

Jangan hilangkan pekerja seks perempuan

Saya pernah berkenalan dengan beberapa anak yang ibunya menjadi pekerja seks, dengan perempuan muda yang juga memperdagangkan vagina, pun saya punya beberapa teman yang menjajakan tubuhnya untuk dinikmati lelaki ketika malam hari, biarpun teman saya ini lelaki juga, tapi toh pekerjaannya sama. Berkenalan dengan para pekerja seks tersebut membuat saya berpikir ulang tentang siapa aktor di balik eksistensi pekerjaan tersebut, yang tak lain dan tak bukan adalah laki-laki. Ya walau ada juga istilah gigolo untuk para tante, tapi biarkan saya membahas pekerja seks perempuan, tidak muluk-muluk ya karena saya juga terlahir sebagai perempuan.

Banyak sekali yang bilang kalau pekerja seks perempuan lahir dan terus merajalela karena patriarki selalu ada; karena perempuan adalah subordinat, perempuan adalah budak seks, bahkan sang filsuf Aristoteles bilang bahwa perempuan itu setengah manusia. Teman-teman bisa cari tau sendiri mengapa patriarki dihubungkan dengan prostitusi yang menjual tubuh perempuan, karena saya mau beropini sebaliknya. Sederhananya adalah saya ini manusia, yang tentu ingin dibedakan dengan manusia lain dan bagaimana cara saya untuk mencapai itu adalah dengan berbeda dalam cara berpikir. Ya, biar jadi hipster aja, gitu. Heu.

Bahwasanya menurut pikiran absurd saya ini, keberadaan pekerja seks perempuan justru membantu menguburkan patriarki. Bahwasanya, tak semua pekerja seks perempuan akan menjadi budak ketika bersenggama, some of them malah menjadi sebaliknya, berada di atas lelaki dan menguasai tubuh mereka. Seks adalah sebuah perilaku sadar, dan tak sedikit dari mereka yang mengatakan kalau perempuan hanyalah objek untuk memuaskan nafsu laki-laki. Namun, bukankah banyak juga perempuan yang sudah memberi alarm penyadaran atas kegiatan seksual tersebut? Di zaman yang sungguh menyenangkan nan brengsek ini, setiap individu mulai terbuka untuk menjadi manusia, termasuk memahami bagaimana mereka mencapai kenikmatan melalui tubuhnya, dengan hasrat, karena begitulah utuhnya menjadi manusia kalau menurut Foucalt lewat eksistensi estetika.

Dalam konteks pekerja seks perempuan, mereka akan melakukan transaksi dengan si lelaki dan mungkin si perempuan akan memberikan harga yang paling tinggi. Tak semata-mata karena ia butuh uang, tapi ia juga punya hak untuk merasakan kenikmatan yang sama dengan si lelaki. Bahkan beberapa kenalan saya menyebutkan, mereka menjajakan diri karena butuh ngeseks, karena itu adalah kebutuhan dari naluri kebinatangan yang ada pada tiap masing-masing individu. Karena seks dalam Kama Sutra, adalah juga tentang merasakan. Tentang menyaksikan dan menyentuh keindahan dari intensitas relasi tubuh, begitu menurut tulisan Saraswati Dewi.

Di atas ranjang, saya bisa menegasikan pernyataan para patriark bahwa perempuan cuma bekerja sebagai alat. Not anymore, honey. Di zaman ini, tak sedikit lagi perempuan yang justru bisa menguasai laki-laki. Terutama bagi para pekerja seks perempuan yang sudah cekatan mengenali titik-titik skrotum yang bisa membuat laki-laki tegang, setelah itu, adalah penguasaan tubuh dari perempuan. Mengapa selama ini pria menggunakan jasa pekerja seks perempuan karena mungkin apa yang pria dapatkan dari mereka adalah keindahan tubuh dan kepuasan menciptakan rangsangan. Mungkin itu salah satu pengurangan nilai tubuh bagi perempuan, namun, kalau boleh ditelisik secara tersirat, dengan cara itulah perempuan bisa memudarkan nilai patriarki yang mengatakan kalau pria memegang kontrol penuh atas wanita ketika bercinta.

Brhadaranyaka Upanisad, sebuah teks dalam filsafat hindu menjelaskan tubuh perempuan merupakan altar suci para dewata; bahwa di dalam tubuh perempuan bersemayam kemisteriusan serta kesucian para dewata. Tubuh perempuan dianggap sebagai ruang bagai ritus suci, sebuah upaya untuk merasakan keindahan ketika menyatukan dua tubuh yang penuh hasrat. Sekarang mungkin saya juga jadi paham bahwa pernyataan ‘cowo mah kalo lagi sange disuruh apaan juga mau’ kadang ada benarnya, karena lagi, menurut filsafat hindu, orgasme diilustrasikan sebagai kehadiran Prajapati atau Tuhan yang karenanya bisa mengendap dan mengikat tubuh tersebut dalam kesadaran yang sublim.

Pada saat-saat seperti itulah, lagi, di ranjang, perempuan punya peran besar untuk mengatur tubuh laki-laki, dan memusnahkan patriarki, setidaknya menghilangkan patriarki privat menurut Sylvia Walby karena mengubur patriarki publik hanya bisa dilakukan dengan cara yang lamban. Sementara kehadiran pekerja seks perempuan, adalah salah satu cara untuk sejenak menggaungkan kesetaraan dalam aktivitas bercinta.

Jangan heran juga apabila pejabat di luar sana rela membayar berapapun kepada pekerja seks karena mereka tau perempuan tersebut bisa menggunakan tubuhnya dan menciptakan rangsangan dengan baik, dan perempuan itu bisa memanfaatkan konsumen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa merasa dirugikan. Itu semua tak lepas dari kontrol dan penguasaan perempuan dalam bersenggama. Karena kembali lagi ke konsep utama, bahwa semua manusia itu binatang, apalagi ketika bercinta. Mereka liar. Mereka sudah masuk ke batas antara fiksi dan realita, dan karenanya, manusia bisa gila karena bercinta.

Terakhir, dari pemikiran saya di atas saya mau minta maaf apabila saya tak menyebutkan data, karena ini hanya pikiran asal-asalan yang disambungkan dengan pengetahuan saya yang masih seupil. Dan, saya mau menegaskan kalau Kama Sutra bukan bacaan porno, otak kalian aja yang porno. Wkwkwkwk. Sekian.

Selamat hari santri!

nf

Ternyata kemarin itu hari santri nasional. Menurut KBBI sih, santri adalah mereka yang bersungguh-sungguh belajar mendalami agama islam. Kalau begitu banyak sekali santri di muka bumi ini dong ya, even dia belum memeluk agama islam sama sekali. Tapi kali ini saya mau memaknai santri sebagai mereka yang mempelajari islam di sebuah insitusi, supaya nyambung dengan apa yang bakal saya tuliskan di bawah.

Percaya atau gak, saya pernah jadi santri di sebuah sekolah bernama Nurul Fikri Boarding School. Namanya doang keren pake Boarding School, padahal mah sama aja kayak pesantren. Letaknya di Banten, rada deket pantai tapi di tengah hutan, beneran lu-lu semua gak akan bisa kabur kalau sekolah disini (Tapi saya pernah kabur, sekali. Hehehe). Iyak benar, orang kaya saya emang gak akan pernah kepikiran bakal diletakkan di pesantren selama tiga tahun kalau bukan karena dipaksa. Mama sama Bapak saya mungkin kesal ngeliat anaknya waktu SMP kerjanya keluyuran dan gak pernah dapat ranking, sholat sekali sehari juga udah alhamdulillah kali.

Jadilah saya dipaksa ikut tes. Saya gak belajar sama sekali dan jawab asal-asalan ketika waktu tes wawancara, saya sampe bilang “saya gak mau sekolah disini. Saya disuruh” ke si pewawancaranya dengan muka super asem. Tapi saya gak tau semesta maunya apa sampai akhirnya saya bisa diterima. Saya cuma bisa berdoa kalau bapak saya mungkin akan berubah pikiran , tapi ternyata enggak. Seorang anak super pemalu dan gak bisa jauh dari rumah kayak Chenia harus tinggal di pesantren. Wow. Bayangan saya tentang jadi anak gaul yang sering ke mall dan bakal punya pesta meriah di ulangtahun ke-17nya harus pupus saat itu juga.

Tahun pertama isinya nangis-nangis semua. Minta pulang. Sakit. Ngambek. Nangis. Dan gak lupa pake seribu umpatan setiap kali ada temen smp yang nanya “lo masih sekolah di NF?”. Saya bahkan sempet nulis status di facebook supaya sekolah yang bernama NF itu bisa musnah. Hahahaha. Lucu juga. Ya bayangin aja, anak remaja yang katanya sedang giat mencari jati diri itu dilarang menggunakan handphone padahal lagi seneng-senengnya. Gak boleh nonton tv. Dijauhkan dari internet. Harus pakai kerudung yang panjangnya di bawah ketiak. Dan bakal dihukum kalau ketauan ngomong Gue, Lo, Anjir, atau segala macam bahasa gak sopan yang padahal lagi dianggap gaul pada zamannya.

Saya stress berat. Saya sampe menghalalkan segala cara untuk mendapatkan surat peringatan sebanyak tiga kali supaya saya dikeluarkan. Tapi ya, ternyata sampe saya lulus saya cuma dapet SP 2, padahal pelanggaran yang saya lakukan sungguh banyak bukan main, mungkin bisa dibikin buku kalau saya ceritakan semua.

Tahun kedua masih pingin pindah. Tapi udah ada pikiran kecil macem “yaudahlah kalo gak pindah juga gapapa”. Dan saya gak pernah berhenti buat membujuk orangtua supaya saya dipindahkan walau saya tau itu sia-sia. Saya mencoba segala macam cara supaya betah, termasuk berhubungan dengan lelaki yang cuma bisa dilihat kalau ada acara gabungan, itu juga cuma berani lirik-lirik karena masih malu. Di tahun ini saya sudah belajar banyak tentang pertemanan. Saya mulai mengenal teman-teman angkatan dengan baik, menjadi telinga dan memberi lidah dalam rangka memahami mereka lebih dalam. Ternyata tinggal di asrama tidak seburuk awalnya.

Tahun ketiga sempet kepikiran masih pingin pindah, dengan pasrah yang lebih banyak dan setengah ikhlas karena berpikir “ah tinggal setaun lagi”. Di tahun ini yang segalanya berhubungan dengan universitas dan ujian nasional, saya mulai ikut-ikutan teman untuk rajin merayu Tuhan dengan berbagai cara. Rajin ikut sholat berjamaah di masjid, rajin sholat dhuha, qiyamul lail, tilawah, tahfidz, dan liqo. Saya jarang minta pulang. Saya mulai menemukan apa yang selama ini seharusnya saya cari. Di awal tahun ketiga saya sudah merasa nyaman hingga ketika saatnya saya pulang, saya menangis kencang. Saya paham kenapa orangtua saya meletakkan anaknya di sebuah pesantren di tengah hutan. Saya gak mau pergi karena menjadi santri ternyata semenyenangkan dan sebikin-nyaman itu.

Terus kenapa saya cerita ini? Gapapa. Tiba-tiba kangen aja. Saya kangen kehidupan asrama dimana kebahagiaan bisa didapat dengan cara yang sungguh sederhana. Nyanyi sambil teriak-teriak di halaman dalem, bikin seblak di panci super besar, atau ngeliat Husna sama Libong mempraktekkan jurus tapak suci. Nebeng mobil penanting. Bolos kelas tahfidz dan ke nufi mart di hari tholib supaya bisa ngeceng cowo-cowo. Makan ayam Bu Aah. Kalau sekarang ada yang nanya “emang enak tinggal di pesantren?” saya bakal jawab dengan lantang “ENAK BANGET!”.

Saya gak nyesel saya gak punya handphone atau gak update berita saat itu karena ada kultum-kultum yang bikin bulu kuduk berdiri ketika disampaikan waktu apel pagi. Saya gak nyesel saya gak pernah ke mall atau tempat-tempat hits kala itu karena cekdam, kantin, kursi madol, atau nufi mart udah bisa bikin saya super senang. Saya gak nyesel gak aktif main facebook atau twitter atau ym waktu itu karena saya punya teman-teman yang bakal mendengarkan langsung semua cerita-cerita saya. Saya juga gak nyesel gak punya pesta meriah di ulangtahun ke 17 karena disiram pake air cekdam pake telor pake tepung di halaman dalem udah bikin saya selalu tersenyum ketika diingat-ingat.

Pengalaman saya mungkin beda jauh sama mereka yang gak sekolah di asrama. Saya pernah disuruh jalan jongkok gara-gara terlambat semenit ke masjid, pernah disiram air seember pas lagi pake mukena gara-gara kebanyakan absen sholat berjamaah, pernah dihukum gara-gara sering ketauan ngomong kasar, pernah jadi teteh dapur dan diskors selama 3 hari karena ketauan pacaran. Cerita-cerita itu emang aneh sih, tapi percayalah, sampe sekarang saya hidup, pengalaman 3 tahun menjadi santri itu adalah pengalaman yang paling seru.

Saya bisa punya teman angkatan sebagai keluarga yang selalu ada sampe sekarang, saya punya pengalaman surat-suratan terus dititip ke abang Cleaning Service buat tau kabar sang pacar di seberang, saya punya jaringan alumni yang luas dan sungguh bermanfaat. Dan terpenting, saya punya banyak cerita seru yang bisa saya sampaikan untuk anak saya nanti! Hahahahaha.

Makanya, ketika banyak orang anti terhadap gagasan full day school, saya agak santai aja karena sebagai salah satu korban sekolah full day school selama 3 tahun, saya sama sekali gak merasa dirugikan. Walaupun beda konteks, ya.

Intinya, saya kangen jadi santri. Realita tak pernah seindah saat masih sekolah di asrama. Apalagi pas udah lulus dan semakin paham kalau manusia di luar sana belum tentu sebaik tholibah angkatan 8 SMA. Duh gusti, boleh saya jadi santri di Nurul Fikri lagi?

Tentang buku kesukaan

Sebagai seseorang yang kadang suka gak kuat iman kalau masuk toko buku, apalagi kalau liat tumpukan sastra indonesia, saya merasa agak gimana gitu aja kalau saya gak punya buku kesukaan. Sejauh ini saya memang punya, dan, mumpung kerjaan saya sekarang cuma bantuin mama di rumah sambil menerapkan hidup sehat (cih), jadi ya boleh lah saya tuliskan supaya kalau saya tua nanti, saya bisa ingat kalau beberapa buku di bawah ini setidaknya pernah mempengaruhi pikiran hidup saya;

Novel:

  1. Okky Madasari-Pasung Jiwa.

Saya ingat betul sebelum membaca buku ini, pikiran saya seringkali dihinggapi pertanyaan macam kenapa di dunia harus ada aturan? Bagaimana jika saya punya nilai dan norma sendiri? Kenapa saya sering merasa terkungkung dengan pikiran orang lain? Saya yang kerap berpikiran lebay saat itu entah kenapa tiba-tiba membeli buku berjudul Pasung Jiwa dan menyelesaikannya hanya satu hari, dengan membawa beberapa jawaban dari pertanyaan saya di atas. Saya gak mau jadi spoiler, tapi buku ini berhasil memberikan pandangan mengenai kebebasan, ketakutan, dan hak asasi manusia. Sama seperti novel-novel mba Okky sebelumnya kayak Maryam dan Entrok yang juga fokus terhadap hak asasi, namun buku ini sungguh kompleks dan dekat, setidaknya menurut saya. Pokoknya, ini buku terbaik selama 4 tahun terakhir saya membaca sastra indonesia modern. Iya, iya, saya subjektif sekali memang, tapi, namanya juga selera, kan?

  1. Eka Kurniawan-O

Iya, ini buku memang baru keluar beberapa bulan lalu. Tapi menurut saya, novel Eka yang satu ini patut diberikan seribu jempol. Terakhir saya membaca ketiga novel maz Eka sebelum ini, saya gak merasa puas-puas amat tetapi di buku ini, Eka benar-benar bikin saya berpikir ulang tentang hidup. Saya pikir cerita ini bakal mirip-mirip dengan Animal Farm nya Orwell, tapi ternyata Eka tetaplah Eka, dengan gaya berceritanya yang khas. Buku ini bikin saya lupa makan, lupa nonton tv, lupa ngecek hp. Hahahaha. Bahwa setiap ada yang di bumi ini akan terus berputar dan memiliki tautan, begitulah O. Terbaik di tahun ini.

  1. Tere Liye-Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Siapa yang gak kenal penulis alim ini? Yang pernah dihujat di media sosial karena teori-teorinya yang dianggap berlebihan dan gak relevan sama perkembangan jaman. Gara-gara statusnya di facebook, ia jadi punya banyak haters. Hiks. Tapi gapapa, saya tetap suka beberapa bukunya. Tere Liye, adalah salah satu penulis yang bikin saya jadi doyan baca. Kemarin waktu angkut-angkut barang dari kosan, saya menghitung ulang ternyata saya punya 12 buku karya Tere Liye. Banyak sekali. Tapi, sesuai ciri khasnya, Tere Liye yang sering menceritakan hal-hal sederhana berhasil membuat saya berkaca pada diri saya. Dalam buku ini, Tere Liye menyadarkan saya kalau pertanyaan terhadap hidup kita adalah jawaban dari kehidupan orang lain. Tuhan selalu punya rahasia dan mungkin pilihan terbaik adalah dengan tidak mengetahui rahasia itu.

Cerpen:

  1. Jakob Soemardjo-Setan dan Perempuan

Bapak Jakob yang jarang-jarang membuat kumcer ini ternyata brilian sekali. Ia mengupas habis tentang eksistensi, persepsi, dan hak asasi. Cerpen-cerpen di dalamnya mengungkapkan apa yang kerap dipikirkan orang-orang namun abai untuk diungkapkan. Ia membuat saya berkali-kali bilang “gila!” ketika selesai membaca cerita-ceritanya. 10 dari 10.

  1. Oka Rusmini-Akar Pule

Oka benar-benar menulis dari sudut pandang perempuan. Lewat ceritanya, ia menceritakan hal-hal berbau feminisme, karena perempuan sering sekali disudutkan oleh budaya bernama patriarki. Dengan gaya menulis yang berima dan indah sekali, menjadi salah satu alasan mengapa saya menyukai buku ini.

  1. Agus Noor-Memorabilia dan Melankolia

Buku ini mungkin biasa-biasa saja, beberapa ceritanya punya alur yang mudah ditebak. Namun terkadang, kebahagiaan lahir dari hal-hal sederhana, kan? Entahlah, saya merasakan Agus Noor menulis cerita-cerita ini dengan segenap emosinya, sehingga menular kepada mereka yang membacanya. Cerita-ceritanya sungguh dekat, wajar, namun bikin terkesan. Bahkan mungkin beberapa dari kita pernah mengalaminya, sehingga membacanya membuat kita memutar ulang memori dalam kepala.

Saya kira itu. Keenam buku tersebut adalah buku indonesia yang sungguh-sungguh saya suka. Bukan berarti di luar itu adalah jelek. Buku adalah masalah selera dan juga, emosional. Hahaha. Oya, saya gak menyebutkan sama sekali penulis juwara indonesia macam Pram, Sindhunata, Danarto, HB Jassin, Armijn Pane, ya? Saya baca juga kok, dan, bukan main memang ceritanya. Itu sih gak usah diragukan lagi lah ya. Mereka terbaik dari yang terbaik. Tapi, yang saya tulis di atas adalah mereka yang berpengaruh pada neuron-neuron di kepala saya ini. Yang bikin saya gak bisa tidur karena kepikiran sama ceritanya. Yang bikin saya mau baca lagi tanpa harus merasa bosan. Yang buat saya jatuh cinta.

Duh, begitulah pokonya. Kalau teman-teman ada rekomendasi, mungkin kita bisa bertukar pikiran. Sekarang saya sedang mencoba menggali sastra-sastra luar seperti edgar allan poe, fyodor dostoyevsky, atau Gabriel Garcia Marquez. Semoga saya cocok. Lah.

Mendidik

Saya senang pada hal-hal berbau anak-anak. Berbau remaja. Berbau ajar-mengajar. Bahkan, salah satu cita-cita saya setelah lulus kuliah adalah menjadi pengajar muda Indonesia Mengajar. Mari diaminkan dulu. Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin. Karena saya—beserta beribu-ribu manusia lain di negeri ini—sepakat bahwa pendidikan adalah salah satu cara untuk membuat sang saka menjadi sejahtera.

Kini, isu pendidikan sedang mencuat ke permukaan. Salah dua pendidik di negeri ini diadili karena ketahuan mencubit muridnya hanya karena muridnya tidak mau melakukan solat dhuha. Mungkin terlihat sepele, ya. Tentu buat beberapa anak zaman dulu seperti ibu atau bapak saya, atau mungkin  teman-teman saya, dicubit atau ditampar atau telapak tangannya dipukul rotan ketika melakukan kesalahan atau tidak melakukan kewajiban seperti beribadah, adalah hal biasa. Beberapa anak dididik keras seperti itu dan tak sedikit dari mereka yang merasakan keberhasilan didikan keras tersebut. Makanya, banyak sekali yang menanggapi peristiwa ini dengan “halah, anak manja!” “guru itu kan mencubit dalam rangka mendidik” “kemerosotan nilai pendidikan, orang tua nya lebay!” dan lain sebagainya.

Baiklah, mari saya bicarakan perspektif yang lain. Saya pernah mengajar satu tahun di sekolah dasar, pernah mengajar satu tahun di PAUD, serta bertemu dengan anak-anak dan remaja dalam versi yang berbeda seperti menjadi kakak pembimbing pesantren ramadhan, mewawancarai anak-anak untuk sebuah program, dan menjadi kakak dari adik saya sendiri. Saya akui saya memang bukan ahli pendidikan, tapi dari kegiatan-kegiatan di atas, saya belajar bahwa untuk mendidik seorang anak, saya tidak perlu menjadi tua. Yang harus saya lakukan adalah menjadi sejajar. Menjadi teman.

Jika memang seorang anak tersebut ‘nakal’ (walaupun definisi nakal pada anak ini tidak adil sekali karena siapa sih yang sebenarnya nakal? Anak-anak, atau kita yang nakal karena tidak bisa memberi contoh? Bukankah anak-anak adalah imitator dari orang tua dan lingkungan sekitarnya?), haruskah mencubit, memukul, menampar, menjadi solusinya? Tak bisakah seorang guru menjadi teman bercerita? Menjadi pengingat yang baik dalam melakukan kebaikan? Tak bisakah seorang guru berbicara dari hati ke hati kepada muridnya? Tak bisakah kita turunkan panggilan guru dengan teman belajar?

Saya pernah mengajar di kelas yang sebut beberapa guru, anaknya ‘buandel-buandel’, bahkan sebelum masuk kelas tersebut untuk pertama kali, saya diperingatkan untuk berhati-hati. saya pikir ‘ini anak-anak apa ranjau, sampe harus dihati-hati in?’ dan bagaimana saya untuk mengatasi mereka adalah dengan menjadi teman. kalian bisa baca selengkapnya di  https://jatinangoreducationcare.wordpress.com/2015/11/10/kelas-suka-suka/. Saya juga pernah berurusan dengan anak umur 4 tahun yang sudah pernah mencoba rokok, dan kata gurunya, ia sering memukul temannya. Apakah saya marahi ia? Apakah saya cubit, saya pukul ia? Tidak. Saya ajak ia bercerita, saya respon semua pernyataannya dengan pertanyaan seperti “oya? Terus rokok enak gak rasanya?” dan ternyata semua perlakuan itu datang dari kekerasan di kedua orang tuanya. ia bercerita panjang lebar pada saya bagaimana ayahnya sering memukul ibunya dan bagaimana ibunya sering memukulnya. Saya sadar, karena kesejajaran itulah setiap anak menjadi terbuka dan tidak takut untuk mengemukakan masalah karena, anak-anak tidak pernah butuh dinilai. Mereka butuh didengarkan. Dan dari proses itu, guru bisa bekerjasama dengan orangtua ataupun keluarganya, karena, keluarga masih menjadi pilar utama dalam mendidik anak, kan?

Mungkin, anak-anak yang sering disebut-sebut ‘nakal’ itu adalah mereka yang tidak pernah didengarkan di rumah, dan ketika mereka sampai di sekolah, tidak ada juga yang bisa mendengarkan mereka. Pada akhirnya, terkadang, merokok, tawuran, narkotika, menjadi alat untuk melampiaskan keresahan-keresahan mereka.  Kalau kata Puthut Ea, mereka, anak-anak yang dicap buruk itu, adalah korban.

Lagipula, kan tak semua orang tua pernah melakukan tindak kekerasan kepada anaknya. Jelas toh, ketika gurunya mencubit mereka, orang tua tersebut akan marah karena didahului haknya?  (alah, tau apa saya tentang hak). Yang pasti, kalau kata teman saya, jangan sekali-kali kita menggeneralisasi kewajaran. Mungkin bagi mereka yang tinggal di desa A, seperti itu adalah wajar, tapi tidak menutup kemungkinan, kan, kalau di desa B, tindak seperti itu adalah kesalahan fatal? Dunia semakin maju, mosok sistem mendidik masih menggunakan yang seperti dulu?

Jikalau memang alasannya untuk mendidik, tak bisakah guru-guru kita menciptakan sebuah sistem pengajaran tanpa kekerasan? Iya, iya, saya paham betul pendidikan di negeri ini tak semulus di Finlandia, seleksinya juga tak seketat disana, sehingga, beberapa dari pendidik disini menjadi pendidik yang asal-asalan, yang penting hasil gajian bisa bikin perut kenyang. Setidaknya dari kejadian ini, para pendidik bisa sadar bahwa tindak kekerasan sudah tidak lagi relevan untuk beberapa keadaan, dan mereka bisa memutarotak untuk membuat sistem pendidikan terbaik dalam rangka menghasilkan anak-anak yang bahagia, bermanfaat, mandiri, dan bisa merancang masa depan.

Oya, saya pribadi, sih, sebagai anak yang dibesarkan di keluarga demokratis dimana bapak dan ibu saya kerap saya anggap teman, tak pernah setuju dengan cara mendidik menggunakan kekerasan. Kalau kata bapak, “lah, emang kamu masih idup di jaman suharto apa”. Cara mendidik seperti itu, jikalau saya kutip dari perkataan A.S Neill, adalah cara mendidik yang mengembangbiakkan ketakutan pada anak-anak. Anak-anak harus ini, harus itu, tidak boleh ini, tidak boleh itu, adalah salah satu cara untuk mengebiri ekspresi anak-anak. Mereka—bahkan kita—butuh kebebasan. Yang anak-anak, remaja, dan orang dewasa seperti kita butuhkan adalah didengarkan. Diberikan contoh. Disadarkan. Dan disayangi. Berikan mereka penjelasan, bercengkramalah, bicaralah.

Karena, mendidik, sejatinya adalah tugas semua orang. Bukan cuma orang tua, guru, atau bahkan, pihak kepolisian.