Sedih

Seorang teman ditinggal menikah oleh kekasihnya yang padahal beberapa minggu sebelumnya dijanjikan akan hidup bersama selama-lamanya. Nothing last forever, benar saja. Dua hari setelah kabar buruk tersebut menimpanya, ia minta dicarikan kenalan baru dengan alasan biar cepat move on. Merespon permintaan itu, saya buru-buru menjawab, “Gamau dinikmatin dulu sedihnya?” ”Gak, Chen”, dengan tak kalah sigap dan tegas ia menjawab pertanyaan saya barusan. Kemudian terbitlah percakapan-percakapan sentimentil nan emosionil sampai akhirnya teman saya tersebut bertanya “Kalo bisa bahagia terus, kenapa harus sedih?”

Menarik, ya. Kalau disuruh pilih mau bahagia atau sedih pasti lebih banyak orang-orang yang memilih bahagia. Yaiyalah, ngapain sedih, udah sakit hatinya, gak enak perasaannya, capek, pula. Tapi kalau saya yang diminta memilih, saya akan jawab ‘tergantung’. Iya, tergantung keadaan saya sedang berada pada titik lebih sedih atau lebih bahagia saat itu.

Beberapa tahun belakangan, saya belajar untuk menikmati kesedihan. Dan ternyata sedih tidak pernah terasa semenyedihkan itu ketika saya berusaha untuk menerima kesedihan tersebut sebagai sesuatu yang proporsional. Saya baru paham kalau sedih adalah satu tanda untuk mengingatkan kalau kita manusia. Makanya, kadang kalau saya merasa saya sedang bahagia terus, saya bakal cari cara supaya saya sedih, sampai saya menangis tersedu-sedu, bahkan. Saya akan menonton film atau video yang bisa bikin saya nangis bombay, mengingat masa lalu yang menyedihkan, atau memikirkan apapun yang merangsang air mata saya keluar. Setelah ritual mengekspresikan kesedihan itu selesai, yauwis, lega lah saya. Dan percayalah, sehabis menangis karena kesengajaan itu hati saya jadi lebih tenang walaupun kesannya airmata yang dibuang tersebut hanyalah seonggok artifisial.

Eh ya ternyata, ritual saya itu baru saya ketahui sudah dibuat di Jepang untuk dilakukan secara massal dan dinamai sebagai acara Rui-katsu. Sekumpulan orang akan diundang untuk melakukan apapun yang dapat memicu airmata mereka keluar dan merasakan kesedihan mendalam. Belum kebayang seperti apa berisiknya ruangan tersebut dengan suara tarik-ulur ingus karena semuanya dipastikan menangis tersedu-sedu. Lalu ada juga Cry Therapy yang kerap dilakukan oleh beberapa terapis di belahan bumi yang bulat (atau datar?) ini. Sebuah penelitian menyebutkan terapi tersebut sungguh berhasil mengurangi tingkat depresi seseorang serta merangsang pasien untuk berbagi lebih dalam.

Betapa kesedihan adalah sebuah perasaan yang sungguh wajar dan membawa keuntungan. Coba, sudah berapa juta penulis dan musisi di dunia ini yang mendapatkan inspirasi dari sesuatu bernama kesedihan? Kadang-kadang saya sedikit geram juga memperhatikan media sosiyel yang dikuasai generasi milenial ini dengan pameran kebahagiaan dibuntuti kepsyen ‘bahagia itu sederhana’ dan lain sebagainya. Padahal mah belum tau juga ya, hidupnya memang sebahagia itu atau tidak. Mengapa mereka tak sering juga memamerkan kesedihannya?

Dan tibalah saya pada sebuah pernyataan bahwa saya tumbuh dalam entitas dimana kesedihan dianggap hal yang lebih privat daripada kebahagiaan, dimana kesedihan bukanlah sesuatu yang lumrah, bahkan beberapanya diajarkan untuk menghindari kesedihan dari kecil “gaboleh nangis ya, kan kamu anak pinter….” padahal apa iya orang pintar itu tidak boleh menangis, wahai netizen? Rasanya saya ingin sekali berteriak kepada orang-orang “menangislah… menangislah!” ya tapi nanti nilai kewarasan saya berkurang di mata para pemberi label alias manusia. Ndak mau ya, saya masih mau bersosialisasi supaya saya jadi bagian dari pemberi label tersebut. Hehehehe.

Jadi begini saja, dunia ini kan katanya sudah menyedihkan, apa perlu kita merayakan kesedihan itu lagi? Sekali lagi jawaban saya, tergantung. Kalau hidupmu dirasa menyedihkan terus, maka carilah kebahagiaan yang katanya sederhana itu. Atau kalau hidupmu kelewat bahagia dalam jangka waktu yang lama, maka rabalah kesedihan. Karena ada yang namanya Tawaazun dalam islam yang berarti keseimbangan di antara dua jalan yang saling bertentangan. Kalau dari belahan Tiongkok, itu disebut Yin Yang. Walau katanya (daritadi katanya terus ya?) hidup ini adalah roda yang tak pernah berhenti berputar, tapi menurut saya sih tak ada salahnya juga kalau sebagai manusia, kita yang berusaha memutar roda tersebut supaya kita tidak diam di tempat.

Karena menyeimbangkan itu perlu, maka bisa dimulai dari menyedihkan kebahagiaan dan membahagiakan kesedihan. Halah, ribet ya. Begitulah.

Terakhir, mau tau apa yang lebih sentimentil menurut saya dari menikmati kesedihan? Buat saya, ia adalah sebuah ruang untuk memberi nafas pada sesuatu. Saya selalu belajar merasakan dari situ. Kesedihan seperti laut, ia adalah tempat ketelanjangan perasaan. Padanya saya bisa berteriak tanpa bersuara dan bisa merasa mati tanpa perlu hidup. Kesedihan adalah rumah dari segala gelak yang pernah diukir secara paksa.

Dan saya akan pulang pada kesedihan itu.

Advertisements

One thought on “Sedih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s