Jatuh cinta kedua

Beberapa bulan belakangan saya sibuk mencari sesuap nasi dengan bekerja di sebuah lembaga internasional yang fokus pada bidang perlindungan anak. Kerjaan saya setiap harinya adalah mengunjungi paud-paud di Jakarta Utara dan bercengkrama dengan manusia-manusia pritil alias anak-anak kecil sekaligus untuk pengambilan data.

Walah, biarpun ini bukan pertama kalinya saya berurusan dengan anak-anak, namun seperti yang semua spesies di dunia ini tau, anak-anak adalah makhluk paling gak bisa ditebak sedunia. Tapi biarpun begitu, gak ada orang dewasa yang gak mau lagi mengulang masa anak-anak mereka; ketika menangis kencang boleh dilakukan di tempat umum, ketika masalah terberat hanyalah perkara harus tidur siang, dan ketika berlaku buruk gak akan diberikan sanksi sosial.

Eh sebentar,

Saya menulis ini untuk apa sih?

Ah ya, saya mau menyampaikan kepada diri saya sendiri kalau setelah berkali-kali terjun di dunia anak-anak, saya semakin sadar kalau saya telah menemukan jatuh cinta saya yang kedua, yaitu kepada anak-anak, setelah yang pertama, menulis. Pernah gak kalian ngerasain ketika kalian melakukan sesuatu, berulang-ulang, namun kalian gak akan pernah bosan? Kalian merasa itu adalah sesuatu yang membuat kalian berkembang, dan tanpa itu kalian akan menjadi kosong. Pernah gak? Iya, begitulah perihalnya saya dengan anak-anak dan menulis.

Apa yang saya rasakan belakangan adalah saya menggebu setiap pagi sambil berpikir “anak-anak kayak gimana ya yang bakal saya temuin hari ini? Apa ya yang bisa saya lakukan sama mereka?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bakal bikin saya gak sabar untuk melakukan pekerjaan saya. Dan bener aja, sesampainya ketemu mereka, waaaah, bahagianya saya kadang berada di ubun-ubun sampai saya mengucap syukur berkali-kali karena masih diberikan kesadaran untuk mengerjakan apa yang saya senangi.

Tapi, gak selalu saya bahagia terus. Kadang, ada hal-hal kecil yang bikin saya menangis sebelum tidur kalau ingat cerita anak-anak itu. Pernah diperkosa, dipukul orangtua pakai balok kayu, atau melihat bapaknya selingkuh lalu sering menampar ibu. Cerita-cerita seperti itu yang selalu bikin saya ngilu, dan kadang bikin saya kepikiran sampai gak bisa tidur sambil berandai-andai tentang apa yang bisa saya lakukan untuk anak-anak seperti mereka.

Realita-realita brengsek macam itu yang menyeret saya untuk mengasihani diri saya sendiri. Kalau punya kesenangan jangan mau enaknya doang dong, apa yang bisa dilakukan untuk setidaknya meminimalisir tindakan kebinatangan itu? Bahwasanya pekerjaan saya yang belakangan ini membuat saya sadar, mungkin, penemuan passion tersebut tidak perlu saya umbar-umbar kalau saya belum bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat di bidang itu. Bahwa ternyata saya masih egois, saya tau apa yang saya senangi tapi hanya menggunakan itu untuk pengembangan diri saya sendiri, padahal semestinya saya memakai itu untuk membawa kebermanfaatan bagi orang banyak. Bukankah hidup perihal bagaimana keberadaan kita berguna untuk sesama?

Dan apabila besok lusa saya gak mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan ini lagi, mungkin inilah waktu yang tepat untuk berbenah diri. Berkaca. Bertanya. Apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi bermanfaat dalam jatuh cinta saya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s