Betapa beberapa tempat memang punya arti tersendiri dalam hidup

Diantaranya akan membuat saya tersenyum sungging ketika diingat, dan sebagiannya lagi membuat saya merenung serta meringis kecut, direnteti perasaan menyesal dan tidak.

Tempat-tempat itu mungkin tidak sengaja saya temui, seperti sebuah entitas antah berantah yang bahkan namanya saja sama sekali asing di telinga. Sebut saja Besuki, sebuah entah yang tersimpan di hati kecil saya ketika melakukan perjalanan dengan dua teman lelaki bodoh dan slengean. Atau Masawah, sebuah entah yang lain yang selalu berhasil membuat saya jatuh terhadap cerita selama satu bulannya.

Tempat lain memang sengaja saya datangi, saya singgahi, dan tanpa saya sadari menjalar ke dalam perasaan.

Ia adalah Jatinangor, sebuah wajah dengan senyum kembang sederet gigi, bahak tawa, kusam kusut, dan sembab penuh air mata. Tak bisa lagi saya deskripsikan Jatinangor dengan abcdefghijklmnopqrstuvwxyz karena ia adalah saksi berkembangnya saya menjadi saya. Yang menemani saya memahami Zarathustra hingga dini hari, yang membangunkan saya untuk mengajar bahasa inggris di tengah huru-hara tugas kampus, yang menyeret saya kepada manusia-manusia maha brengsek dan menyenangkan, dan yang membuat saya jatuh bangun jatuh bangun karena perasaan. Tempat itu adalah Jatinangor, selalu Jatinangor, yang mengambil beberapa bagian dalam hati dan kepala.

Hati saya juga punya fragmen untuk Jakarta, ruang yang kerap membuat saya waras dan gila sekaligus. Jakarta adalah apa yang saya ciptakan untuk menyadarkan diri bahwa satu-satunya yang membuat para homo ekonomikus bertahan hidup adalah harapan. Dari Jakarta saya hidup kemudian mati kemudian hidup lagi. Setidaknya, begitulah cara Jakarta menjungkirbalikkan saya.

Lalu, Serang. Bagian paling pertama dalam peremajaan. Tentang menjadi telinga dan keras suara. Menjadi teman, kakak, adik, ibu, ayah. Yang membuat saya mudah dan susah tidur. Tiga tahun paling tak bisa ditebak karena banyak sekali pengalaman.

Pun, Thailand. Yang selalu saya nantikan. Ia adalah badut berhidung bundar di tengah pasar malam. Bahwa di tengah gelap selalu ada yang membuat tertawa. Satu bulan setengah paling bahagia menjadi warga negara asing. Thailand selalu menjadi pengingat bahwa kebaikan adalah bahasa universal dan bagaimana menghadapi perbedaan yang tak pernah sama seperti di buku kewarganegaraan dulu.

Hati saya pula selalu tersisa untuk Madasari, Menganti, Parai, Cikuray, Papandayan, Prau, Sindoro, dan Gede. Mereka adalah apa yang selalu menelanjangkan perasaan. Yang membuat saya mengingat, merancang, meracau. Yang selalu menyadarkan kalau ada entitas paling Maha yang lebih besar dari apapun, dan saya hanya titik kecil dari segala yang Ia ciptakan. Saya adalah apa, bukan siapa, di hadapanNya.

Saya sadar, betapa beberapa tempat memang punya arti tersendiri dalam hidup.

Betapa mereka akan terus mengingatkan kalau hidup adalah tentang perjalanan-perjalanan kecil yang tetap membuat kita menjadi manusia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s