Mengapa?

Mengapa kita mati-matian mencintai manusia, berapi-api bilang berusaha mencintai dengan tulus, asalkan seseorang itu bahagia karena titik paling tinggi mencintai adalah ketika kita tidak lagi memikirkan perasaan sendiri.

Mengapa kita mati-matian mencintai manusia, padahal manusia banyak sekali maunya dan sulit dipahami.

Mengapa tidak kita mati-matian mencintai Tuhan, tak perlu berapi-api untuk mencintaiNya dengan tulus karena Ia tak pernah minta apapun selain kebaikan dan kepercayaan bahwa Tuhan selalu mencintai kita walaupun kita abai menyapanya sesekali.

Mengapa tidak kita mati-matian mencintai Tuhan, padahal Ia selalu ada, dekat, dan memberi kita napas untuk mencintaiNya.

Mengapa tidak kita mati-matian mencintai Tuhan dengan titik tertinggi karena ketika kita bahkan tidak lagi memikirkan diri sendiri demi mencintaiNya, Ia akan sepenuh hati memberi yang paling baik untukmu. Kehidupan indah setelah kematian.

Bukankah kita semua akan mati?

Mengapa kita mati-matian mencintai manusia, yang mungkin tak pernah memberi kita apa-apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s