Menulis bebas

1

Belakangan ini saya benci melakukan basa-basi. Kegiatan itu sangat menguras energi untuk memproduksi kalimat normatif dan senyum yang disungging-sunggingkan. Mungkin ternyata saya butuh istirahat dari menjadi adaptatif, karena layang-layangpun akan tiba pada situasi menyangkut di pohon, atap, atau kabel listrik.

2

Saya sedang nyaman dengan bermonolog. Saya akan merekam omongan saya menggunakan perangkat canggih abad ini; telepon pintar. Saya akan berbicara apa saja; perihal kegiatan saya satu hari penuh, perihal perasaan yang sedang saya alami, atau perihal pendapat saya mengenai sesuatu. Saya mengeluarkan semuanya; setelah itu rekaman monolog tersebut akan saya dengarkan ulang. Mungkin saya sedang bosan dengan menulis dan ternyata monolog adalah pengganti sementara yang tepat untuk meluapkan perasaan. Kadang kamu tak perlu orang lain untuk bercerita, kan?

3

Kepala saya masih menjadi gudang terjorok di dunia. Ia terus memproduksi barang-barang yang sudah tidak bisa dipakai dan segala yang mungkin dilupakan namun masih bisa digunakan. Saya tak mampu membersihkan walaupun sapu, kemoceng, pengharum ruangan sudah tersedia di hadapan. Saya tak mampu, atau tak ingin. Saya tidak paham.

4

Sementara pikiranmu jelas dan mempunyai alur, punya saya kok rumit sekali. Ia lapang dan bebas untuk diisi apapun. Ia tak sesederhana kalimatmu yang berkali-kali kau teriakkan. Pikiran saya mengambang; dan di sela-sela itu masih terpajang bau tubuhmu, walau akan saya jatuhkan atau saya peluk hingga saya padam.

5

Saya butuh menjadi puas. Walau saya tau bahagia bisa didapat dari hal-hal sederhana, namun saya butuh merasa puas. Mungkin bisa saya dapat dari berjalan jauh sendirian, menerbitkan buku, atau pada akhirnya saya bisa mendaki gunung lain lagi hingga sebelum saya memejamkan mata, saya akan berucap syukur karena saya sungguh puas atas sebuah hal yang sudah saya lakukan.

6

Perasaan saya tak butuh dipahami, tak perlu dibalas, tak usah dipikirkan. Saya tau kalau tak semua hal mesti resiprokal. Mungkin saya butuh ketidakadilan.

7

Saya selalu sedih seusai mendapat senang. Saya lupa kalau hidup adalah lingkaran yang tak pernah berhenti berputar.

Advertisements

Mengapa?

Mengapa kita mati-matian mencintai manusia, berapi-api bilang berusaha mencintai dengan tulus, asalkan seseorang itu bahagia karena titik paling tinggi mencintai adalah ketika kita tidak lagi memikirkan perasaan sendiri.

Mengapa kita mati-matian mencintai manusia, padahal manusia banyak sekali maunya dan sulit dipahami.

Mengapa tidak kita mati-matian mencintai Tuhan, tak perlu berapi-api untuk mencintaiNya dengan tulus karena Ia tak pernah minta apapun selain kebaikan dan kepercayaan bahwa Tuhan selalu mencintai kita walaupun kita abai menyapanya sesekali.

Mengapa tidak kita mati-matian mencintai Tuhan, padahal Ia selalu ada, dekat, dan memberi kita napas untuk mencintaiNya.

Mengapa tidak kita mati-matian mencintai Tuhan dengan titik tertinggi karena ketika kita bahkan tidak lagi memikirkan diri sendiri demi mencintaiNya, Ia akan sepenuh hati memberi yang paling baik untukmu. Kehidupan indah setelah kematian.

Bukankah kita semua akan mati?

Mengapa kita mati-matian mencintai manusia, yang mungkin tak pernah memberi kita apa-apa.