Perjalanan

Bagaimana mendefinisikan perjalanan?

Untuk beberapa keadaan, saya bukanlah seseorang yang selalu memegang prinsip que sera-sera dan akan berpikir paling sederhana guna melanjutkan hidup. Saya kerap berkelana dengan pikiran-pikiran saya sehingga memunculkan hasil akhir macam ‘hidup kok gini amat ya’ atau ‘susah ya jadi manusia’ dan sebagainya dan sebagainya.

Tapi sebenarnya hidup memang tentang yaudah jalanin dulu aja, wong spesies-spesies serakah ini sudah terlanjur diturunkan ke bumi, mosok mau maksa dibalikin lagi? Kan ndak. Dan pada akhirnya pun yang kita lakukan hanyalah berjalan. Kita semua harus melakukan perjalanan. Apa itu? Saya juga tidak tahu.

Tiap-tiap kita mungkin berbeda mendefinisikan perjalanan. Saya akan mengartikan perjalanan saya dengan bagaimana saya bisa melangkahkan kaki dan dengan lancar mengucap mama ketika saya berumur dua atau tiga tahun. Lalu berlindung di balik ketiak bapak ketika ada orang besar yang mengajak saya berkenalan.

Saya tumbuh jadi seseorang yang pemalu. Yang tidak akan pernah mengajak bicara duluan, yang insecure dengan tubuh saya yang tambun, yang selalu menganggap diri saya jelek, yang tidak pernah tahu apa yang saya mau. Hingga pada titik yang mungkin tak pernah bisa saya bayangkan; saya dijauhi dan ditertawakan banyak orang.

Sejak saat itu, saya berjalan mundur. Saya menghilang. Saya menjauh dan tak pernah ada keinginan untuk berlari kencang, yang bisa saya lakukan hanyalah berjalan saja. Pada sebuah sudut saya singgah sebentar. Saya menemukan ruang yang membuat saya merasa nyaman, sungguh nyaman, sehingga kenyamanan itu membuat saya takut melintasi perbatasan. Menjadi remaja tanggung yang senang ikut-ikutan teman dengan mimpi yang dimimpi-mimpikan.

Saya mengenali diri saya, mungkin separuh, tapi terkungkung dengan apa-apa yang belum saya ketahui. Yang saya tau saat itu saya tidak boleh berhenti, saya hanya harus terus berjalan. Lalu di tengah-tengah berjalan itu, semakin lama saya menemukan diri saya. Saya berdiri di depan sebuah entitas yang akan mengantarkan saya pada proses menikmati hidup.

Saya memulai semuanya dari sana. Saya berlayar hingga titik paling jauh. Saya mendaki puncak ketakutan saya. Saya melompati batas tertinggi dan sesekali mencoba berlari kencang, biarpun kerap terjatuh. Namun yang saya lakukan adalah kembali bangun dan memutuskan untuk berjalan lagi.

Dan sekarang saya masih berjalan, menjadi seseorang yang senang menertawakan dirinya sendiri. Yang mengerti bahwa penampilan luar dan dalam harus diberi asupan, karena apalah fisik indah namun dangkal berpikir dan sebaliknya. Saya yang belajar bahwa kunci kebahagiaan adalah menerima. Saya yang sudah tidak terengah-engah memahami diri saya. Saya yang tiga perempat mengenali saya—semoga. Dan saya yang sudah sampai pada jalan ini. Sejauh ini.

Lantas apakah perjalanan itu sebuah perubahan? Mungkin iya, mungkin tidak. Buat saya, perjalanan adalah keseluruhan ruang yang pernah kita singgahi. Ia tak melulu maju, tak melulu senang, tak melulu di atas. Perjalanan adalah bagaimana saya sebentar menahan laju untuk kemudian menengok ke belakang. Ia adalah kembali merekam untuk mengingatkan bahwa sebagai manusia, kita sudah sanggup bertahan sejauh ini. Ia juga menjadi tempat berdiam diri karena terlalu jengah terhadap sesuatu. Ternyata, perjalanan adalah saya sendiri. Dan pada akhirnya, perjalanan adalah proses menjadi manusia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s