Tentang melamun

Saya manusia normal. Saya ingin dianggap biasa dan terkadang mau dinilai beda. Saya akan berpura-pura semangat ketika pagi dan menangis kecil sebelum tidur hanya karena teringat cerita-cerita yang belum selesai. Saya kerap berpikir untuk menyerah ketika saya lelah. Saya juga mau menjadi terkenal karena sebuah karya. Saya juga manusia, yang juga, suka melamun.

Tak punya pekerjaan tetap belakangan ini membuat melamun menjadi kegiatan yang menyenangkan buat saya. Melamun adalah sebuah eskapisme yang karenanya saya tak menjadi seserius para politikus, tak sesedih tokoh pria dalam buku Olenka, pun tak sebercanda Tukul Arwana. Ia tak membutuhkan apa dan siapa. Ia menjadi batas antara, yang bisa menyadarkan saya bahwa untuk merayakan kehidupan adalah dengan membuat proyeksi sejenak di luar realita.

Saya bisa membayangkan apa saja. Membuat cerita tentang keluarga saya sepuluh tahun ke depan sampai membayangkan Donald Trump menjadi Donald Duck, karena jangan-jangan pilpres kemarin itu cuma fiksi. Ia juga bisa menghadirkan kenangan tengik dan rencana absolut selama satu hari ke depan. Melamun membuat saya mengingat sekaligus melupakan. Ia adalah aktivitas yang sungguh paripurna untuk dilakukan di mana saja; di rumah, di kamar mandi, di commuterline, di bus transjakarta, di mall, di taman kota.

Satu hal; melamun tak harus memikirkan sesuatu, apa yang juga saya senangi adalah melamun tanpa memikirkan apa-apa. Kosong. Tiba-tiba saya menjadi manusia paling subtil sealamsemesta. Melamun tanpa perlu melibatkan neuron di kepala. Waktu saya berhenti. Kehidupan saya terspasi. Wah, menjadi kosong karena tak memikirkan apa-apa ketika melamun adalah pengalaman paling menakjubkan. Serius.

Mungkin saya gila, atau sudah gila. Siapa yang gila? Siapa tau mereka yang gila adalah waras dan yang waras adalah yang sebetulnya gila. Karena ada peneliti yang bilang kalau melamun berlebihan itu termasuk kelainan yang disebut maladaptive daydreaming. Tapi Freud bilang melamun wajar saja, karena itu termasuk salah satu cara untuk meredakan konflik. Dan manusia mana yang tak punya konflik? Lagipula melamun hanya saya lakukan ketika saya sendirian. Daripada terus menerus terjebak oleh kegiatan repetitif seperti baca buku, menonton film, membuat puisi, atau basa-basi dengan orang asing, lebih baik saya berkecimpung dengan kepala dan fantasi saya sendiri. Melamun.

Advertisements

Jangan hilangkan pekerja seks perempuan

Saya pernah berkenalan dengan beberapa anak yang ibunya menjadi pekerja seks, dengan perempuan muda yang juga memperdagangkan vagina, pun saya punya beberapa teman yang menjajakan tubuhnya untuk dinikmati lelaki ketika malam hari, biarpun teman saya ini lelaki juga, tapi toh pekerjaannya sama. Berkenalan dengan para pekerja seks tersebut membuat saya berpikir ulang tentang siapa aktor di balik eksistensi pekerjaan tersebut, yang tak lain dan tak bukan adalah laki-laki. Ya walau ada juga istilah gigolo untuk para tante, tapi biarkan saya membahas pekerja seks perempuan, tidak muluk-muluk ya karena saya juga terlahir sebagai perempuan.

Banyak sekali yang bilang kalau pekerja seks perempuan lahir dan terus merajalela karena patriarki selalu ada; karena perempuan adalah subordinat, perempuan adalah budak seks, bahkan sang filsuf Aristoteles bilang bahwa perempuan itu setengah manusia. Teman-teman bisa cari tau sendiri mengapa patriarki dihubungkan dengan prostitusi yang menjual tubuh perempuan, karena saya mau beropini sebaliknya. Sederhananya adalah saya ini manusia, yang tentu ingin dibedakan dengan manusia lain dan bagaimana cara saya untuk mencapai itu adalah dengan berbeda dalam cara berpikir. Ya, biar jadi hipster aja, gitu. Heu.

Bahwasanya menurut pikiran absurd saya ini, keberadaan pekerja seks perempuan justru membantu menguburkan patriarki. Bahwasanya, tak semua pekerja seks perempuan akan menjadi budak ketika bersenggama, some of them malah menjadi sebaliknya, berada di atas lelaki dan menguasai tubuh mereka. Seks adalah sebuah perilaku sadar, dan tak sedikit dari mereka yang mengatakan kalau perempuan hanyalah objek untuk memuaskan nafsu laki-laki. Namun, bukankah banyak juga perempuan yang sudah memberi alarm penyadaran atas kegiatan seksual tersebut? Di zaman yang sungguh menyenangkan nan brengsek ini, setiap individu mulai terbuka untuk menjadi manusia, termasuk memahami bagaimana mereka mencapai kenikmatan melalui tubuhnya, dengan hasrat, karena begitulah utuhnya menjadi manusia kalau menurut Foucalt lewat eksistensi estetika.

Dalam konteks pekerja seks perempuan, mereka akan melakukan transaksi dengan si lelaki dan mungkin si perempuan akan memberikan harga yang paling tinggi. Tak semata-mata karena ia butuh uang, tapi ia juga punya hak untuk merasakan kenikmatan yang sama dengan si lelaki. Bahkan beberapa kenalan saya menyebutkan, mereka menjajakan diri karena butuh ngeseks, karena itu adalah kebutuhan dari naluri kebinatangan yang ada pada tiap masing-masing individu. Karena seks dalam Kama Sutra, adalah juga tentang merasakan. Tentang menyaksikan dan menyentuh keindahan dari intensitas relasi tubuh, begitu menurut tulisan Saraswati Dewi.

Di atas ranjang, saya bisa menegasikan pernyataan para patriark bahwa perempuan cuma bekerja sebagai alat. Not anymore, honey. Di zaman ini, tak sedikit lagi perempuan yang justru bisa menguasai laki-laki. Terutama bagi para pekerja seks perempuan yang sudah cekatan mengenali titik-titik skrotum yang bisa membuat laki-laki tegang, setelah itu, adalah penguasaan tubuh dari perempuan. Mengapa selama ini pria menggunakan jasa pekerja seks perempuan karena mungkin apa yang pria dapatkan dari mereka adalah keindahan tubuh dan kepuasan menciptakan rangsangan. Mungkin itu salah satu pengurangan nilai tubuh bagi perempuan, namun, kalau boleh ditelisik secara tersirat, dengan cara itulah perempuan bisa memudarkan nilai patriarki yang mengatakan kalau pria memegang kontrol penuh atas wanita ketika bercinta.

Brhadaranyaka Upanisad, sebuah teks dalam filsafat hindu menjelaskan tubuh perempuan merupakan altar suci para dewata; bahwa di dalam tubuh perempuan bersemayam kemisteriusan serta kesucian para dewata. Tubuh perempuan dianggap sebagai ruang bagai ritus suci, sebuah upaya untuk merasakan keindahan ketika menyatukan dua tubuh yang penuh hasrat. Sekarang mungkin saya juga jadi paham bahwa pernyataan ‘cowo mah kalo lagi sange disuruh apaan juga mau’ kadang ada benarnya, karena lagi, menurut filsafat hindu, orgasme diilustrasikan sebagai kehadiran Prajapati atau Tuhan yang karenanya bisa mengendap dan mengikat tubuh tersebut dalam kesadaran yang sublim.

Pada saat-saat seperti itulah, lagi, di ranjang, perempuan punya peran besar untuk mengatur tubuh laki-laki, dan memusnahkan patriarki, setidaknya menghilangkan patriarki privat menurut Sylvia Walby karena mengubur patriarki publik hanya bisa dilakukan dengan cara yang lamban. Sementara kehadiran pekerja seks perempuan, adalah salah satu cara untuk sejenak menggaungkan kesetaraan dalam aktivitas bercinta.

Jangan heran juga apabila pejabat di luar sana rela membayar berapapun kepada pekerja seks karena mereka tau perempuan tersebut bisa menggunakan tubuhnya dan menciptakan rangsangan dengan baik, dan perempuan itu bisa memanfaatkan konsumen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa merasa dirugikan. Itu semua tak lepas dari kontrol dan penguasaan perempuan dalam bersenggama. Karena kembali lagi ke konsep utama, bahwa semua manusia itu binatang, apalagi ketika bercinta. Mereka liar. Mereka sudah masuk ke batas antara fiksi dan realita, dan karenanya, manusia bisa gila karena bercinta.

Terakhir, dari pemikiran saya di atas saya mau minta maaf apabila saya tak menyebutkan data, karena ini hanya pikiran asal-asalan yang disambungkan dengan pengetahuan saya yang masih seupil. Dan, saya mau menegaskan kalau Kama Sutra bukan bacaan porno, otak kalian aja yang porno. Wkwkwkwk. Sekian.