Tentang buku kesukaan

Sebagai seseorang yang kadang suka gak kuat iman kalau masuk toko buku, apalagi kalau liat tumpukan sastra indonesia, saya merasa agak gimana gitu aja kalau saya gak punya buku kesukaan. Sejauh ini saya memang punya, dan, mumpung kerjaan saya sekarang cuma bantuin mama di rumah sambil menerapkan hidup sehat (cih), jadi ya boleh lah saya tuliskan supaya kalau saya tua nanti, saya bisa ingat kalau beberapa buku di bawah ini setidaknya pernah mempengaruhi pikiran hidup saya;

Novel:

  1. Okky Madasari-Pasung Jiwa.

Saya ingat betul sebelum membaca buku ini, pikiran saya seringkali dihinggapi pertanyaan macam kenapa di dunia harus ada aturan? Bagaimana jika saya punya nilai dan norma sendiri? Kenapa saya sering merasa terkungkung dengan pikiran orang lain? Saya yang kerap berpikiran lebay saat itu entah kenapa tiba-tiba membeli buku berjudul Pasung Jiwa dan menyelesaikannya hanya satu hari, dengan membawa beberapa jawaban dari pertanyaan saya di atas. Saya gak mau jadi spoiler, tapi buku ini berhasil memberikan pandangan mengenai kebebasan, ketakutan, dan hak asasi manusia. Sama seperti novel-novel mba Okky sebelumnya kayak Maryam dan Entrok yang juga fokus terhadap hak asasi, namun buku ini sungguh kompleks dan dekat, setidaknya menurut saya. Pokoknya, ini buku terbaik selama 4 tahun terakhir saya membaca sastra indonesia modern. Iya, iya, saya subjektif sekali memang, tapi, namanya juga selera, kan?

  1. Eka Kurniawan-O

Iya, ini buku memang baru keluar beberapa bulan lalu. Tapi menurut saya, novel Eka yang satu ini patut diberikan seribu jempol. Terakhir saya membaca ketiga novel maz Eka sebelum ini, saya gak merasa puas-puas amat tetapi di buku ini, Eka benar-benar bikin saya berpikir ulang tentang hidup. Saya pikir cerita ini bakal mirip-mirip dengan Animal Farm nya Orwell, tapi ternyata Eka tetaplah Eka, dengan gaya berceritanya yang khas. Buku ini bikin saya lupa makan, lupa nonton tv, lupa ngecek hp. Hahahaha. Bahwa setiap ada yang di bumi ini akan terus berputar dan memiliki tautan, begitulah O. Terbaik di tahun ini.

  1. Tere Liye-Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Siapa yang gak kenal penulis alim ini? Yang pernah dihujat di media sosial karena teori-teorinya yang dianggap berlebihan dan gak relevan sama perkembangan jaman. Gara-gara statusnya di facebook, ia jadi punya banyak haters. Hiks. Tapi gapapa, saya tetap suka beberapa bukunya. Tere Liye, adalah salah satu penulis yang bikin saya jadi doyan baca. Kemarin waktu angkut-angkut barang dari kosan, saya menghitung ulang ternyata saya punya 12 buku karya Tere Liye. Banyak sekali. Tapi, sesuai ciri khasnya, Tere Liye yang sering menceritakan hal-hal sederhana berhasil membuat saya berkaca pada diri saya. Dalam buku ini, Tere Liye menyadarkan saya kalau pertanyaan terhadap hidup kita adalah jawaban dari kehidupan orang lain. Tuhan selalu punya rahasia dan mungkin pilihan terbaik adalah dengan tidak mengetahui rahasia itu.

Cerpen:

  1. Jakob Soemardjo-Setan dan Perempuan

Bapak Jakob yang jarang-jarang membuat kumcer ini ternyata brilian sekali. Ia mengupas habis tentang eksistensi, persepsi, dan hak asasi. Cerpen-cerpen di dalamnya mengungkapkan apa yang kerap dipikirkan orang-orang namun abai untuk diungkapkan. Ia membuat saya berkali-kali bilang “gila!” ketika selesai membaca cerita-ceritanya. 10 dari 10.

  1. Oka Rusmini-Akar Pule

Oka benar-benar menulis dari sudut pandang perempuan. Lewat ceritanya, ia menceritakan hal-hal berbau feminisme, karena perempuan sering sekali disudutkan oleh budaya bernama patriarki. Dengan gaya menulis yang berima dan indah sekali, menjadi salah satu alasan mengapa saya menyukai buku ini.

  1. Agus Noor-Memorabilia dan Melankolia

Buku ini mungkin biasa-biasa saja, beberapa ceritanya punya alur yang mudah ditebak. Namun terkadang, kebahagiaan lahir dari hal-hal sederhana, kan? Entahlah, saya merasakan Agus Noor menulis cerita-cerita ini dengan segenap emosinya, sehingga menular kepada mereka yang membacanya. Cerita-ceritanya sungguh dekat, wajar, namun bikin terkesan. Bahkan mungkin beberapa dari kita pernah mengalaminya, sehingga membacanya membuat kita memutar ulang memori dalam kepala.

Saya kira itu. Keenam buku tersebut adalah buku indonesia yang sungguh-sungguh saya suka. Bukan berarti di luar itu adalah jelek. Buku adalah masalah selera dan juga, emosional. Hahaha. Oya, saya gak menyebutkan sama sekali penulis juwara indonesia macam Pram, Sindhunata, Danarto, HB Jassin, Armijn Pane, ya? Saya baca juga kok, dan, bukan main memang ceritanya. Itu sih gak usah diragukan lagi lah ya. Mereka terbaik dari yang terbaik. Tapi, yang saya tulis di atas adalah mereka yang berpengaruh pada neuron-neuron di kepala saya ini. Yang bikin saya gak bisa tidur karena kepikiran sama ceritanya. Yang bikin saya mau baca lagi tanpa harus merasa bosan. Yang buat saya jatuh cinta.

Duh, begitulah pokonya. Kalau teman-teman ada rekomendasi, mungkin kita bisa bertukar pikiran. Sekarang saya sedang mencoba menggali sastra-sastra luar seperti edgar allan poe, fyodor dostoyevsky, atau Gabriel Garcia Marquez. Semoga saya cocok. Lah.

Advertisements

Mendidik

Saya senang pada hal-hal berbau anak-anak. Berbau remaja. Berbau ajar-mengajar. Bahkan, salah satu cita-cita saya setelah lulus kuliah adalah menjadi pengajar muda Indonesia Mengajar. Mari diaminkan dulu. Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin. Karena saya—beserta beribu-ribu manusia lain di negeri ini—sepakat bahwa pendidikan adalah salah satu cara untuk membuat sang saka menjadi sejahtera.

Kini, isu pendidikan sedang mencuat ke permukaan. Salah dua pendidik di negeri ini diadili karena ketahuan mencubit muridnya hanya karena muridnya tidak mau melakukan solat dhuha. Mungkin terlihat sepele, ya. Tentu buat beberapa anak zaman dulu seperti ibu atau bapak saya, atau mungkin  teman-teman saya, dicubit atau ditampar atau telapak tangannya dipukul rotan ketika melakukan kesalahan atau tidak melakukan kewajiban seperti beribadah, adalah hal biasa. Beberapa anak dididik keras seperti itu dan tak sedikit dari mereka yang merasakan keberhasilan didikan keras tersebut. Makanya, banyak sekali yang menanggapi peristiwa ini dengan “halah, anak manja!” “guru itu kan mencubit dalam rangka mendidik” “kemerosotan nilai pendidikan, orang tua nya lebay!” dan lain sebagainya.

Baiklah, mari saya bicarakan perspektif yang lain. Saya pernah mengajar satu tahun di sekolah dasar, pernah mengajar satu tahun di PAUD, serta bertemu dengan anak-anak dan remaja dalam versi yang berbeda seperti menjadi kakak pembimbing pesantren ramadhan, mewawancarai anak-anak untuk sebuah program, dan menjadi kakak dari adik saya sendiri. Saya akui saya memang bukan ahli pendidikan, tapi dari kegiatan-kegiatan di atas, saya belajar bahwa untuk mendidik seorang anak, saya tidak perlu menjadi tua. Yang harus saya lakukan adalah menjadi sejajar. Menjadi teman.

Jika memang seorang anak tersebut ‘nakal’ (walaupun definisi nakal pada anak ini tidak adil sekali karena siapa sih yang sebenarnya nakal? Anak-anak, atau kita yang nakal karena tidak bisa memberi contoh? Bukankah anak-anak adalah imitator dari orang tua dan lingkungan sekitarnya?), haruskah mencubit, memukul, menampar, menjadi solusinya? Tak bisakah seorang guru menjadi teman bercerita? Menjadi pengingat yang baik dalam melakukan kebaikan? Tak bisakah seorang guru berbicara dari hati ke hati kepada muridnya? Tak bisakah kita turunkan panggilan guru dengan teman belajar?

Saya pernah mengajar di kelas yang sebut beberapa guru, anaknya ‘buandel-buandel’, bahkan sebelum masuk kelas tersebut untuk pertama kali, saya diperingatkan untuk berhati-hati. saya pikir ‘ini anak-anak apa ranjau, sampe harus dihati-hati in?’ dan bagaimana saya untuk mengatasi mereka adalah dengan menjadi teman. kalian bisa baca selengkapnya di  https://jatinangoreducationcare.wordpress.com/2015/11/10/kelas-suka-suka/. Saya juga pernah berurusan dengan anak umur 4 tahun yang sudah pernah mencoba rokok, dan kata gurunya, ia sering memukul temannya. Apakah saya marahi ia? Apakah saya cubit, saya pukul ia? Tidak. Saya ajak ia bercerita, saya respon semua pernyataannya dengan pertanyaan seperti “oya? Terus rokok enak gak rasanya?” dan ternyata semua perlakuan itu datang dari kekerasan di kedua orang tuanya. ia bercerita panjang lebar pada saya bagaimana ayahnya sering memukul ibunya dan bagaimana ibunya sering memukulnya. Saya sadar, karena kesejajaran itulah setiap anak menjadi terbuka dan tidak takut untuk mengemukakan masalah karena, anak-anak tidak pernah butuh dinilai. Mereka butuh didengarkan. Dan dari proses itu, guru bisa bekerjasama dengan orangtua ataupun keluarganya, karena, keluarga masih menjadi pilar utama dalam mendidik anak, kan?

Mungkin, anak-anak yang sering disebut-sebut ‘nakal’ itu adalah mereka yang tidak pernah didengarkan di rumah, dan ketika mereka sampai di sekolah, tidak ada juga yang bisa mendengarkan mereka. Pada akhirnya, terkadang, merokok, tawuran, narkotika, menjadi alat untuk melampiaskan keresahan-keresahan mereka.  Kalau kata Puthut Ea, mereka, anak-anak yang dicap buruk itu, adalah korban.

Lagipula, kan tak semua orang tua pernah melakukan tindak kekerasan kepada anaknya. Jelas toh, ketika gurunya mencubit mereka, orang tua tersebut akan marah karena didahului haknya?  (alah, tau apa saya tentang hak). Yang pasti, kalau kata teman saya, jangan sekali-kali kita menggeneralisasi kewajaran. Mungkin bagi mereka yang tinggal di desa A, seperti itu adalah wajar, tapi tidak menutup kemungkinan, kan, kalau di desa B, tindak seperti itu adalah kesalahan fatal? Dunia semakin maju, mosok sistem mendidik masih menggunakan yang seperti dulu?

Jikalau memang alasannya untuk mendidik, tak bisakah guru-guru kita menciptakan sebuah sistem pengajaran tanpa kekerasan? Iya, iya, saya paham betul pendidikan di negeri ini tak semulus di Finlandia, seleksinya juga tak seketat disana, sehingga, beberapa dari pendidik disini menjadi pendidik yang asal-asalan, yang penting hasil gajian bisa bikin perut kenyang. Setidaknya dari kejadian ini, para pendidik bisa sadar bahwa tindak kekerasan sudah tidak lagi relevan untuk beberapa keadaan, dan mereka bisa memutarotak untuk membuat sistem pendidikan terbaik dalam rangka menghasilkan anak-anak yang bahagia, bermanfaat, mandiri, dan bisa merancang masa depan.

Oya, saya pribadi, sih, sebagai anak yang dibesarkan di keluarga demokratis dimana bapak dan ibu saya kerap saya anggap teman, tak pernah setuju dengan cara mendidik menggunakan kekerasan. Kalau kata bapak, “lah, emang kamu masih idup di jaman suharto apa”. Cara mendidik seperti itu, jikalau saya kutip dari perkataan A.S Neill, adalah cara mendidik yang mengembangbiakkan ketakutan pada anak-anak. Anak-anak harus ini, harus itu, tidak boleh ini, tidak boleh itu, adalah salah satu cara untuk mengebiri ekspresi anak-anak. Mereka—bahkan kita—butuh kebebasan. Yang anak-anak, remaja, dan orang dewasa seperti kita butuhkan adalah didengarkan. Diberikan contoh. Disadarkan. Dan disayangi. Berikan mereka penjelasan, bercengkramalah, bicaralah.

Karena, mendidik, sejatinya adalah tugas semua orang. Bukan cuma orang tua, guru, atau bahkan, pihak kepolisian.