Saya dan FTV

Tulisan ini didedikasikan untuk teman-teman yang sering sekali bilang “selera lu rendahan amaaaaaaat, demennya nonton ftv” ketika mereka memergoki saya sedang menonton ftv di kosan, di hotel ketika trip bersama, bahkan di youtube. Iya, selain baca buku sastra indonesia dan memutari Jakarta naik kendaraan umum, hobi saya selanjutnya adalah nonton ftv atau film televisi. Saya ndak yakin kalau hobi saya yang satu ini ditulis di cv untuk melamar kerja nanti, saya bakal diterima oleh perusahaan yang menjadi tujuan saya.

Tingkat kesukaan saya pada ftv ini sudah sampai pada tahap saya merindukan suasana dimana ftv hadir empat kali dalam satu hari. Saya lupa pada tahun berapa, tapi yang pasti sebuah saluran televisi pernah menayangkan ftv pada jam 10 pagi, jam setengah 1 siang, jam tiga sore, dan jam 10 malam dalam satu hari. Wah, saya mendapatkan kebahagiaan ketika itu. Saya juga hafal saluran televisi mana saja yang menayangkan ftv sejak tahun-tahun lalu. Rajawali pernah, perusahaannya Bapak Chairul juga pernah, Global juga. Tapi yang sampai sekarang masih konsisten mempertotonkan ftv setiap hari hanyalah saluran dengan Bapak Eddy Kusnadi sebagai pemilik saham terbesarnya, alias surya citra televisi indonesia.

Saya juga hafal siapa saja pemain-pemain rupawan nan menyegarkan yang kerap muncul di ftv. Sebutlah Ridwan Ghani dan Fauzan Nasrul yang menurut saya menggemaskan, atau Michelle Ziudith, Sharena Rizky, dan sederet muka-muka baru dengan akting yang yaaaaaaaaa bagus kok kalau buat saya yang tempe banget kalau disuruh akting.

Saya memang gak ngerti-ngerti amat masalah rating atau bagaimana sistem dunia pertelevisian di Indonesia ini bekerja. Tapi saya paham kok kalau salah satu tujuan media adalah untuk menghibur masyarakat, dan, saya bagian dari masyarakat itu wong jelas saya sudah punya ktp kok.

Buat beberapa manusia, ftv mungkin adalah tayangan murahan yang ceritanya gitu-gitu doang. Ya, emang sih. Ftv kerap melulu seputar cinta, atau paling mending, persahabatan. Alur ceritanya juga gak begitu berbeda setiap harinya. Si cowo yang orang kaya bertemu cewe miskin lalu mereka jatuh cinta. Bagaimana mereka merepresentasikan orang kaya dan orang miskin ini juga berbeda-beda, biarpun ujung-ujungnya sama. Pejabat dan pelayan lah, supir dan majikan lah, tukang roti dan mahasiswa lah, dan kadang-kadang juga mereka yang sama-sama tukang anu saling jatuh cinta.

Alurnya dibuat sedemikian mudah ditebak dengan akhir yang bahagia. Pemeran utama dan pilihan hatinya bakal bersama dan bikin penonton bilang “lah udah pasti gini nih akhirnya”. Tapi, saya pernah sukak banget sama satu ftv yang menurut saya seru amat judulnya ‘mantan paling kece’. Kalian bisa cari di youtube, dan menurut saya, itu ftv terseru selama beberapa tahun ini saya tontoni ftv sctv.

Saya cuma mau memberikan alasan kepada teman-teman yang sering menganggap saya aneh karena suka nonton begituan bahwasanya percayalah teman-teman, ftv tidak semenjijikkan itu. Buat saya, ftv adalah peregang penat dari hikuk pikuk permasalahan Indonesia. Ftv adalah penghibur terbaik dari berita-berita korupsi dan pemerkosaan, dari sinetron yang bikin bosan, dari gosip selebriti yang menghabiskan uang ratusan juta untuk beli tas bermerek. Untuk saya, ftv adalah apa yang tidak pernah nampak pada realita. Ia menyajikan dunia utopis yang terkadang manusia medioker dambakan. Coba, mahasiswa mana lagi yang gak kelimpungan mikirin tugas selain di ftv? Kalau saya, sih, merasa sungguh bahagia bisa menertawakan beberapa kejanggalan dan ketidakmungkinan yang diperlihatkan ftv.

Ftv juga memberikan pengaminan pada setiap doa-doa manusia mengenai frasa yang sering motivator bilang, ‘kalau anda belum bahagia, berarti anda belum mencapai akhirnya’. Bukankah setiap akhir cerita ftv selalu menimbulkan senyum sungging dan pernyataan cemburu macam “idih, akhirnya kok bahagia melulu. Udah ketebak” bukankah para penggiat ftv ingin mengabulkan permohonan manusia untuk tetap bahagia setelah mendapatkan penderitaan? You got it, people.

Selain itu semua, ftv juga menyajikan drama di setiap ceritanya. Si A suka sama si B dan si C yang dimana sahabat A juga menyukai B. Lalu A dan C bertengkar, lalu satu dari mereka mengalah karena ingin melihat B bahagia bersama pilihannya. Waw, seru sekali. Ftv membuat saya senang ketika drama yang saya buat di kepala bisa mereka visualisasikan. Bukankah hidup ini lebih seru dengan drama? Bukankah kita semua membutuhkannya? Bukankah hidup ini datar kalau semuanya lurus-lurus saja? Ftv memperlihatkan semua itu dengan begitu telanjang dan terkadang, dekat dengan keseharian kita. Ya memang, ftv itu kalau boleh saya bilang ada di sela-sela fiksi dan realita. Ia ada di batas antara. Ia ada di titik-titik yang nampak dan tidak.

Mungkin saya berlebihan, ftv kok dinilai sebegitunya? Ya memang tinggal tonton saja, ftv gak kalah seru kok sama dangdut akademi. Kan, dua-duanya sama-sama penghibur masyarakat yang gak ada kerjaan kaya saya. hehe. Lagipula nih, saya yakin kok, kalau para pembuat ftv ini akan menemukan jalannya untuk menciptakan film-film berkualitas sekelas 500 hundred days of summer. Siapa tau, kan? mungkin ini masih menjadi proses pembelajaran dari masing-masing mereka. Dan tidak ada salahnya menghargai karya orang lain, apalagi karya anak indonesia.

Kan kalau kata bait lagu yang sering saya nyanyikan dulu “indoooonesia, indooonesiaaaaaaaa, aku bangga menjaaaaaaadiiiiiiii anak iiiindoooonesiaaaaaa

Ndasmu bangga.

Eh kan.

Advertisements