Yang abu-abu

IMG_3706

Beberapa hari ini lingkup pergaulan saya hanya seputar mama, adik, dan waria ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Pertemanan saya dengan beberapa waria tersebut memang bermula dari skripsi dengan subjek waria. Sebagai seseorang yang (sok) idealis dan merasa nyemplung di jurusan yang tidak begitu saya minati, pada akhirnya saya masih waras untuk membuat sesuatu yang dimulai dari hati. Saya ndak mau skripsi saya menjadi monumen tanpa semen, maka dari itu saya berusaha sekali mencari subjek yang begitu menguras keingintahuan saya. Tadinya keputusan itu jatuh di dua pilihan, yakni orang sakit jiwa dan waria. Namun, memikirkan kemungkinan bahwa saya belum tentu bisa mengobrol dan berteman jauh dengan opsi pertama, maka jatuhlah saya pada pilihan kedua, waria.

Memilih waria juga merupakan salah satu cara untuk mencapai salah satu cita-cita saya; berteman dengan banyak orang dari banyak kalangan. Saya bahkan ingin sekali berteman dengan mafia kelas kakap, dengan anggota islam ekstremis, dengan pencopet, dengan begal, dengan orang super kaya yang punya sederet kartu debit di dompetnya, dengan siapapun yang berlabelkan ‘baik’ dan ‘buruk’ dari masyarakat. Dan sebelum ini, saya belum pernah berteman dengan waria.

Pertanyaan dan pernyataan sotoy macam ‘gila kali ngapain sih milih waria, mereka kan serem’ atau ‘awas ih nanti diapa-apain loh’ bahkan ‘awas ntar ketularan’ senantiasa merespon saya ketika mereka tahu kalau subjek yang saya teliti adalah waria, sudah gitu odha, pula. Saya paling cuma tersenyum dan mengumpat dalam hati emangnya waria kenapa sih elah.

Pertama kali mengenal dan mewawancarai mereka, respon saya hanya satu; gila!. Perlakuan-perlakuan tai kucing dari masyarakat awam macam diludahin, ditendang, diserempet tanpa sebab adalah makanan sehari-hari mereka. Waria adalah salah satu kaum yang mungkin sudah kebal dengan segala macam diskriminasi. Bahkan ada yang bercerita bahwa temannya yang juga waria pernah digantung hidup-hidup oleh warga, dan tak ada petugas kepolisian yang mau membantunya. Mari sebentar kita dendangkan dulu lagu nasional; hiduplah indonesia rayaaaaa~

Hari-hari selanjutnya saya mencoba untuk ikut mereka nyebur ke lapangan. Saya ikut menemani ke rumah sakit untuk tes VCT dan rontgen segala macam untuk keperluan mereka yang ODHA. Hari berikutnya saya ikut mereka mengamen di lampu merah sekalian rumpi bareng sambil makan gorengan. Yang saya amati, para waria ini mentalnya sungguh luar biasa karena bagaimana tidak, setiap mereka berjalan, semua mata tertuju padanya. Dan begitulah pula kemarin yang saya rasakan ketika bersama-sama dengan mereka seharian, semua orang seolah melihat saya sebagai narapidana. Atau, seolah saya ini artis yang sedang liburan di jalan raya.

‘Dapet lima puluh ribu aja sehari aku mah udah lumayan banget, kalo lagi sepi biasanya 15rebu, yang penting bisa buat makan sehari sama sisanya buat ke rumah sakit nanti’, kata salah satu dari mereka. Di tengah memenuhi kebutuhan primer, mereka juga harus rutin cek ke rumah sakit karena penyakit ganas yang menyerang mereka. ‘tapi aku mah kalo ngeseks tetep aktif dong, tapi ya main aman, gila aja kali stop ngeseks’, katanya sambil tertawa, seolah seks adalah kebutuhan utama yang bisa menggantikan nasi.

Beberapa dari mereka bilang bahwa mereka tidak mau mencari pekerjaan lain selain mengamen karena mengamen itu asyik, mereka senang karena mereka bisa menghibur orang lain, mereka bisa membuat orang lain tertawa. ‘ya sekalian juga cari duit’, tambahnya. Saya langsung teringat buku berjudul Pasung Jiwa karya Mba Okky Madasari, persis sekali diceritakan bahwa mengamen bukan semata mencari uang buat beberapa waria, namun, lebih jauh dari itu, ada kepuasan batin yang mereka dapatkan. Dan saya sudah menemui tipe waria mulia seperti ini, yang juga memikirkan untuk menyenangkan orang lain.

Bercerita panjang lebar dengan mereka tak pernah lepas dari tertawa. Apa yang saya senangi dari mereka adalah, biarpun mereka paham mereka kaum terpinggirkan, biarpun mereka tau hidup mereka bergantung pada obat, biarpun mereka mengerti banyak orang yang tidak menerimanya, mereka tetap tahu bagaimana caranya menikmati hidup.

‘ngapain lah hidup dibawa susah, beberapa taun lagi juga saya mokat’’, sahutnya lagi. Berteman dengan mereka membuat saya paham bahwa tetaplah tertawa di atas bajingannya hidup. Tetaplah bahagia di tengah brengseknya keadaan karena terkadang, penyelamat terbesar adalah diri kita sendiri.

Tuhan ternyata masih sangat baik memberikan kesempatan mengenali beragam ciptaannya. Saya lagi-lagi belajar untuk menaruh kepala saya di sepatu orang lain, karena sebelumnya persepsi saya terhadap waria juga tak semenyenangkan ini.

Kini, saya merasa beruntung sekali memutuskan memilih waria karena toh, perkiraan saya di awal terbukti; memangnya waria kenapa? Justru menurut saya, mereka lebih terbuka dan apa adanya dalam berteman. Mereka juga punya pasangan, punya perasaan, punya ketakutan, dan, punya hak yang harus terus diperjuangkan.

(kalau kalian bertemu waria mengamen di lampu merah manapun, jangan pelit-pelit buat kasih uang, ya)

Advertisements

2 thoughts on “Yang abu-abu

  1. Saya juga punya cita-cita buat bisa punya teman dari berbagai kalangan, karena dari sana kita bisa belajar bahwa nggak ada orang yang benar-benar hitam atau pun putih. Kita adalah hitam putih.

    Kayaknya seru pengalamannya kak, sukses skripsinya 🙂

    Like

    1. Iya setuju! Dengan berteman dengan banyak orang kita jadi gak mudah untuk menghakimi seseorang hihihi
      Terima kasih! Doakan tengah tahun ini wisuda, ya 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s