Iman

Beberapa hari lalu ketika saya duduk di sebuah bus ke luar kota, saya bersebelahan dengan seorang ibu yang bahkan setelah begitu banyaknya kami mengobrol panjang, saya tak tahu namanya. Dibuka dengan percakapan basa-basi yang begitu umum, kami akhirnya sampai pada topik keagamaan. Ibu itu mengaku beragama kristen dengan aliran advent. Suaminya pendeta, dan ia mengutarakan banyak hal mengenai ajarannya yakni bahwa mereka tidak memakan babi, anjing, ular, darah, bahkan mereka tak merayakan paskah dan natal karena itu semua tak tertuang dalam alkitab. Sampai situ saya cuma manut-manut saja karena saya tidak pernah memahami lebih dalam mengenai ajaran tersebut.

aliran kristen yang lain itu sebenernya keliru, mana ada ibadah minggu, yang ada kan ibadah itu hari sabtu. Wong jelas-jelas tertulis kok di injil, aneh itu mereka”, katanya.

Hingga tiba pada topik mengenai pacar saya yang beragama kristen dengan gereja pentakosta, ia menanggapi “oh pentakosta. Mereka nangis-nangis dan nyanyi-nyanyi mulu itu. Ga paham saya apa yang ditangisin. Lebay”, sahutnya.

Iya, sampai sini juga saya masih iya-iya saja walaupun agak gondok juga mendengar seseorang menilai dan merendahkan kepercayaan orang lain.

Lalu ia membanding-bandingkan advent dengan pentakosta, advent dengan HKBP, advent dengan katolik, sampai pada akhirnya, dengan agama saya sendiri.

ngapain sih kalian nyembah Nabi Muhammad yang jelas-jelas udah mati, udah jadi mayat, kalau kita nih kan menyembah Yesus dan kita percaya kalau dia masih hidup dan nanti akan diturunkan lagi”, katanya.

Ingin rasanya saya jawab “Bu, kita menyembah Allah, bukan Nabi Muhammad. Nabi Muhammad itu kita jadikan suri tauladan karena kita percaya ia adalah nabi terakhir sebagai penyampai wahyu atas kitab penyempurna kitab-kitab sebelumnya”

Tapi, kenyataannya saya lagi-lagi cuma diam. Saya takut pada akhirnya saya akan sama ngototnya dan malah mengajak ibu itu berdebat lalu ujung-ujungnya saya sama tingginya dengan ibu itu. Saya enggan, saya tak mau nantinya saya juga merusak nama islam atas keriyaan saya, tapi, saya sadar kalau ternyata, saya setakut itu karena saya merasa pengetahuan keagamaan saya sungguh-sungguh cetek.

Saya juga tak bisa menjawab ketika ibu itu mengomentari perayaan hari raya qurban di islam. Saya cuma bisa diam. Mungkin seharusnya saat itu saya ceritakan tentang Ibrahim dan Ismail, tapi, entahlah. Saya paham apabila Tuhan adalah rumah, dan ada berbagai macam rute untuk mencapai rumah tersebut, toh tak ada salahnya kan kalau saya menyuarakan bahwa rute saya juga bisa diambil agar bisa sampai ke rumah itu. Ya, kan? Tapi, iya, saya sedang sepayah itu. Saya takut apa yang saya sampaikan bukanlah benar, dan lebih memperburuk keadaan.

Baru kali itu saya merasa malu menjadi islam karena diri saya sendiri. Lalu saya sadar bahwa kerap ketika pacar saya bertanya mengenai sejarah sholat jumat, mengenai Nabi Muhammad, mengenai haji, dan mengenai hal-hal dasar tentang islam sayapun tak bisa menjawab. Iya, saya payah. Selama ini saya sering sok pintar untuk membicarakan filsafat, sastra, dan hal lain yang mungkin belum banyak orang yang paham tapi untuk keimanan saya sendiri, saya tidak paham. Saya malu.

Baru kemarin seseorang memberikan saya sebuah kalimat menusuk yang sederhana, bahwa

iman tanpa pengetahuan adalah kesia-siaan

Dan saya tidak bisa tidak memikirkan kalimat itu. Mungkin kamu bakal menilai bahwa saya kok tolol sekali, bahwa saya kok bisa-bisanya tak tahu mengenai hal dasar tentang islam macam itu, bahwa saya selama ini beriman yang seperti apa?

Tak apa. Saya menuliskan ini supaya menjadi pengingat bahwa beriman bukan hanya tentang percaya, tapi mau memahami dan mendalami apa yang kita imani. Saya tau beriman adalah tentang hati, tapi Yang Kuasa juga memberikan otak untuk menyelaraskan keimanan itu. Dan saya sadar bahwa mulai dari sekarang, islam harus saya pahami lebih dalam.

Advertisements

Meniqa

Saya gak ngerti kenapa banyak sekali anak muda yang kalau tertimpa masalah sedikit mikirnya langsung mau nikah aja, mau nikah aja, mau nikah aja.

Teman-teman, memangnya menikah itu menyenangkan?

Apa cuma segelintir orang kaya saya aja yang semakin tua malah semakin takut untuk menikah? Pernah gak sih kepikiran gimana kalau misalnya pasangan kamu nantinya berubah 180 derajat ketika kalian sudah berumahtangga, pernah gak sih kepikiran kalau misalnya ia yang kamu puja-puji itu menjadi orang lain yang dengan mudahnya kerap menyakiti perasaanmu, pernah gak sih kepikiran kalau misalnya kamu dan dia gak saling mencintai setulus itu, pernah gak sih kepikiran kalau menikah ternyata semenyeramkan itu?

Tapi banyak tuh pasangan yang awet sampai maut memisahkan, ya alhamdulillah, berarti toh menikah gak seburuk itu. Tapi gak kalah banyak juga mereka yang gagal dalam pernikahan karena sakit yang berkepanjangan.

Iya, saya memang agak sepesimis itu dengan pernikahan. Saya percaya kalau cinta itu senjata paling ampuh untuk menyelamatkan dan membunuh seseorang. Dan kata orang-orang fase tertinggi mencintai lawan jenis itu adalah merelakan ketika keduanya berani berjanji untuk tetap bersama sampai nafas tak lagi ada, atau menjadi suami istri, atau menikah. Menikah, setidaknya di negara saya, adalah momen sakral dalam hidup. Ia adalah awal dari (mungkin) frasa bahwa kita adalah seonggok homo sosializ.

Saya kerap bertemu dan bercerita dengan mereka yang merasa bahwa pernikahan adalah beban karena cinta bisa saja sewaktu-waktu memudar. Memang sih, kalau kata beberapa orang pun, cinta dalam pernikahan itu hanya ada pada tahun-tahun pertama, selebihnya, tanggung jawab. Tapi saya kurang setuju juga, sih, karena, cinta bisa tetap ada kalau dijaga, ya?

Eh sebentar, memangnya menikah itu hanya tentang cinta? Ya engga. buat saya, menikah adalah tentang keinginan saling menerima. Menerima seseorang untuk terus bersama dengan kita, menerima baik dan buruknya, menerima bahwa sendirian tak selalu menyenangkan untuk menikmati hidup.

Menikah sungguh berat untuk orang-orang individualis seperti saya karena menikah adalah tentang menata ulang masa depan, merencakan sesuatu secara bersama-sama, dan perihal memahami dan menjaga perasaan orang lain. Percayalah, buat saya, menikah mungkin adalah tantangan terberat dalam hidup.

Dan juga, menikah adalah tentang kesabaran. Untuk saat ini, saya sama sekali belum berpikir untuk menikah, tapi siapa tau, mungkin, suatu saat nanti akan datang seseorang yang bisa membuat saya berpikir kalau satu-satunya hal yang paling ingin saya lakukan dengannya adalah melakukan pernikahan.

Doakan saja.