W a k t u

Sehabis menonton sebuah film yang sungguh brengsek tentang masa depan, saya jadi kepikiran sesuatu;

Mungkin gak ya suatu saat nanti kita bisa membeli waktu?

Bukannya sekarang kita sudah bisa membeli waktu? Kata beberapa teman yang sudah dengan baik hati ingin menjawab pertanyaan saya yang super absurd di siang bolong hari ini. Namun, bukan ‘membeli’ seperti itu yang saya maksud. Bukan dari pegawai kantoran yang terlalu sibuk sampai lupa waktu, bukan dari mereka yang lupa caranya mensyukuri detik, bukan dari hal-hal realistis macam itu. Saya sedang menyingkir sejenak dari realita dan ingin masuk lebih dalam ke ruang yang lebih liar.

Saya berpikiran bagaimana seandainya di masa yang akan datang, manusia akan kekurangan waktu. Lalu ada sebuah teknologi maha oke yang bisa menambahkan waktu dalam sehari. Jadi, seseorang bisa mendapatkan tambahan waktu dengan membelinya per satuan detik. Orang-orang bisa mendapatkan waktu yang mereka mau dalam perhari, satu hari tidak lagi menjadi 24 jam namun bisa 30 jam, 27 jam, atau berapapun lah yang mereka mau. Egois sih, rasanya pingin bilang mampus sama orang-orang mesir yang ribet-ribet menciptakan jam matahari dan menghitung bintang untuk menetapkan kesepakatan universal sehari-duapuluhempatjam-itu.

Tapi siapa tau, kan? tidak ada yang tau akan sampai dimana perkembangan teknologi di dunia ini bekerja. Sang homo sapiens yang tak pernah puas ini akan selalu menciptakan inovasi terdepan untuk mengurus permasalahan yang—kadang gitu-gitu doang. Kalau bukan kemiskinan, ya bencana alam. Atau biar keren sedikit, isu gender dan politik lah ya. Kan, manusia selalu butuh konflik agar tetap hidup dan berkembang demi masa depan cemerlang. Allahuakbar!

Omong-omong lagi soal waktu, saya jadi gelagapan membaca dan mengingat pernyataan Kant dan Agustinus tentang ruang dan waktu. Pasti kamu pernah mendapatkan pertanyaan lebih pilih mana kembali ke masa lampau atau masa depan? Dan perbandingan jawabannya tak lebih dari pipti-pipti. Tapi kalau saya lebih memilih masa lampau sih, supaya bisa memperbaiki hal-hal yang tidak becus, rusak, dan semaput. Terus lalu kemudian orang-orang akan bilang kalau saya tidak bersyukur. Iya, toh, kan saya juga termasuk homo sapiens yang tidak pernah puas itu. Jadi, saya juga mau memperbaiki kesalahan untuk kesempurnaan hidup di masa mendatang. Eh, yang mencapai kesempurnaan cuma sang Sidharta yang patungnya tersebar dimana-mana (iya saya lagi di Thailand sekarang. Pamer sedikit tak apa kan?)

Jadi kalau menurut Bapak Agustinus yang relijius itu, tiga pembabakan waktu yang kini sudah sangat dikenal oleh seluruh makhluk berakal (lampau, kini, dan datang) hanya ada dalam realitas pikiran. Ia bersifat apriori. Pernah kepikirankah kalau waktu ternyata serandom itu? Karena menurutnya masa lampau adalah ingatan, masa kini adalah perhatian, dan masa yang akan datang adalah harapan. Kalau memang ada mesin waktu dan kita lebih memilih ingatan, apakah sebegitunya kita ingin mencari memoar? Gimana sih sebenarnya saya juga bingung, agak-agak tai kucing juga kalo memikirkan waktu dan ruang, karena kalau kata Kant, dua-duanya adalah sama. Kata Einstein juga. Tidak akan ada waktu kalau tak ada ruang. Vice versa.

Waktu yang ada dalam realitas pikiran ini juga bisa diukur, begitu yang saya baca di bagian buku the confessions. Ketika sesuatu itu bergerak di dalam waktu, maka waktu dapat diukur saat itu juga. Namun ketika benda itu berhenti bergerak bukan berarti waktu juga berhenti karena benda itu ada di dalam ruang dan dalam ruang itu terdapat waktu. Tuhan tolong, saya bingung.

Kalau misalnya imajinasi saya di awal itu terealisasikan, toh bisa-bisa saja walau dunia akan chaos karena tak ada lagi ukuran tetap mengenai waktu—maksud saya, waktu dalam satu hari—bukan tiga waktu yang super absurd itu. Jadi semua orang memiliki waktu subyektif dan meleburkan waktu objektif yang selama ribuan tahun ini sudah kita anut. Semua orang akan mencari uang untuk membeli waktu, atau mungkin menabung waktu. Dan waktu akan menjadi murah untuk para elite, politisi, dan ibu-ibu ber-hak tinggi. Kemiskinan semakin tinggi. Bencana alam menjadi-jadi. Jangan lupa untuk korupsi.

Ah, seru sekali. Mungkin ada yang tertarik mengajak saya membuat film pendek mengenai ini?

He he he.

Advertisements

2 thoughts on “W a k t u

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s