Saya feminis?

Jadi. Begini.

I am done with statement “awas nanti jadi feminis” “hati-hati sama feminis” atau bahkan dengan apa yang pernah saya bilang satu tahun lalu, “gue gak feminis-feminis amat kok”. Rasanya pingin bilang “Helaw homo sapiens, ngerasa tau banget ne soal feminis?” terus dengan mbikin tulisan ini saya jadi paling tau? Wah ya engga lah, kalo saya serba tau saya udah direkrut Semesta kali buat jadi tuhan kesekian. He he he. Canda bro

Oke pemirsah yang kadang merasa paling benar di hadapan manusia dan (sayangnya) saya juga begitu, saya yang eksistensinya sedang berada penuh di program studi gender, gatal betul untuk menanggapi kesalahpahaman orang-orang tentang feminisme. Tolong bilang kalau saya memang gak kalah sotoynya sama kalian ya, tapi setelah tarung pikiran dengan teman dan dosenQ yang budiman, saya paham kalau awalnya feminisme adalah sebuah paham untuk menyetarakan perempuan karena patriarki. PATRIARKI, saudara! Patriarki yang bikin suami-suami merasa cupu kalau gak punya pekerjaan tetap dan lebih senang mengurus rumah tangga. Patriarki yang bikin laki-laki gengsi buat nangis di depan umum. Patriarki yang bikin LGBT kemudian disebut jadi kelompok minoritas. Patriarki, yang bukan cuma mengobjektifikasi perempuan, tapi juga berbagai macam kelompok bahkan ia memiliki benang merah pada…..kapitalisme~

Yak maap kejauhan ya. Intinya, feminisme adalah gerakan kesetaraan perempuan, pada awalnya. Namun karena (semoga) kita semuwa tau kalau ilmu itu bersifat fleksibel dan progresif, maka di zaman now, feminisme diartikan sebagai gerakan kesetaraan gender. Gender ya, bukan cuma perempuan. Gender itu apa, kak? Coba googling dikit, yang pasti sekarang feminisme punya perluasan arti untuk mengangkat hak-hak pihak manapun yang teropresi (perempuan, LGBTIQ, atau orientasi seksual lain) karena patriarki. Jadi feminis itu apa kak? Feminis adalah orang-orang yang berusaha mengusung nilai-nilai feminisme.

Jadi selama kamu sadar kamu memilih sesuatu karena keputusanmu tanpa tekanan orang lain, apalagi kamu perempuan, lalu kamu feminis bukan? Oya jelas. Lalu ketika kamu menghargai keputusan temanmu untuk melepas jilbabnya, untuk memakai KB, untuk bercerai, karena dirinya sendiri, apakah kamu feminis? Iya dong. Terus kalau kamu membela hak-hak LGBTIQ, apakah kamu juga feminis? Pasti. Dan ketika kamu gak memandang laki-laki buruk ketika ia bukan pencari nafkah untuk keluarga, berarti kamu feminis? Nah iyak itu pinter.

Tapi apakah feminisme sesederhana itu? Ya engga lah. Kalo sesederhana itu juga gak bakalan ada mata kuliah teori feminisme selama satu semester di jurusan saya. Disini saya cuma mau bilang kalau menjadi feminis itu gak berarti kamu memilih untuk gak menikah, membenci laki-laki, atau ingin diperlakukan sama seperti laki-laki. Engga. Tapi bukannya ada yang seperti itu kak?

Nah ini. Kesalahpahaman orang-orang mungkin dimulai dari sini. Banyak juga kok temen-temen saya yang takut banget sama feminisme bahkan beberapanya bilang “gue benci feminisme”, and I was like “wait…dude, feminisme yang mana dulu?” feminisme, seperti agama, bukan sebuah label tunggal. Ia adalah jamak dan kita gak bisa menggeneralisasi feminisme. Mari saya beri contoh. Kalau menurut kamu feminisme itu adalah yang benci laki-laki dan mendukung penuh lesbianisme, oh oke, itu feminisme radikal, adique, oh bukan, lebih lengkapnya feminisme radikal kultural. Terus, kalau menurut kamu perkawinan itu gak penting karena akan menghilangkan kebebasan kamu sebagai perempuan, hmmm, itu feminisme eksistensialis.

Terus, kalau kamu merasa perempuan berhak punya pendidikan tinggi tanpa mikirin ‘nanti laki-laki ga ada yang mau’, oh itu feminisme liberal. Kalau yang mendukung cuti hamil dan menstruasi untuk perempuan di ranah pekerjaan? Feminisme marxis sosialis sepertinya cocok dengan itu. Atau, yang mengaitkan perempuan dengan alam—apalagi kalau bukan ekofeminisme. Jadi feminisme itu ada banyak, netizen. Kamu gak bisa dong bilang kamu benci muslim cuma gara-gara ada satu aliran yang merugikan kamu?

Maka, kalau kamu bilang kamu gak suka feminisme, coba pastikan lagi, feminisme yang mana? Dan kalau kamu mengaku kamu seorang feminis sejati, feminisme yang mana? Lalu pabila kamu bingung dengan beragam feminisme, coba kamu baca kitab kuning mahasiswa jurusan saya alias Feminist Thought karya Putnam Tong. Cuman kalau itu kepanjangan dan bikin kamu males, yauwis baca aja bukunya Mba Gadis Arivia yang berjudul Filsafat Berspektif Feminis.

Dan lagi kalau kamu sebagai manusia metropolitan sering berpikir “jir feminisme buat apa sih” atau bahkan menjadikan feminisme untuk menyalahkan perempuan-perempuan yang minta bercerai duluan (please AILA, main ke jurusan saya yuk), maka saya emang gak bisa menyalahkan kamu. Karena kalau kamu mau peduli, feminisme gak sesempit itu. Ia seluas perjuangan petani perempuan Kendeng terhadap pabrik semen. Ia juga sedalam usaha mamak Aleta Baun yang menolak pembangunan perusahaan demi ketersediaan air di daerahnya. Ia juga larut dalam kesadaran ibu-ibu di pedalaman Papua yang sering lebam dan berdarah karena suami-suami mereka. Ia mungkin tidak terlihat di depan matamu yang penuh dengan instagram stories dan diskon h&m, tapi ia ada di ruang-ruang yang musti digali ulang bahwa patriarki memang bertindak sekeji itu.

Saya memahami bahwa mungkin sulit sekali (apalagi laki-laki) untuk menyebut diri sebagai feminis di tengah miskonsepsi yang menyebar ini. Padahal kan, sekarang banyak juga laki-laki feminis dan jumlah perempuan patriark malah gak kalah banyak. Tapi, ku yang sering berpikir cemacem kalau lagi buang air besar ini ingin sekali mengajak you you pada untuk sensitif terhadap itu. Untuk setidaknya sadar kalau feminisme gak sekejam dan seburuk itu. Karena, saya gak mau ada golongan lain lagi yang bakal mengepung LBH kalau ada acara pelurusan sejarah tentang PKI. Hehehehe. Teteup.

Advertisements

Senang Belajar

Saking seringnya menulis secara konvensional, saya lupa rasanya menulis digital. Belakangan hidup saya berkutat di kampus karena saya masih menjadi mahasiswa baru di sebuah program yang kalau saya sebutkan, respon orang-orang kurang lebih “hah? Emang ada ya jurusan itu?” gapapa. Tapi monmaap aja kalau saya kurang sabar untuk menjelaskan dan paling-paling saya cuma jawab “ada” sambil haha-hehe supaya gak ada pertanyaan lebih lanjut.

Jurusan yang saya ambil untuk kuliah lanjutan ini bernama Kajian Gender. Program studi ini kabarnya cuma dibuka di dua universitas di Indonesia; Malang dan Salemba. Kalau kata tante “itu tuh kamu belajar laki-laki dan perempuan ya?” ngggg… iya, sih. Tapi itu cuma dasar dari segala dasarnya. Agak kesal juga tapi maklum kalau beberapa dari manusia-manusia di bumi ini belum tau apa itu gender dan apa itu seks. Gapapa.

Saya memilih program studi tersebut dengan kesadaran penuh, seratus ditambah seratus persen, saya memang tertarik pada kajian yang kata orang gak ada terkenal-terkenalnya itu. Tapi yha, mosok lulusan kesejahteraan sosial ini kudu ambil jurusan menejemen demi harkat dan martabat situ sekaliyan? Kan enggak. Jadi sudah cukup pembukaannya lah ya.

Intinya mah saya cuma mau curhat aja ini. Saya mau cerita kalau setelah beberapa waktu menjadi mahasiswa di program studi ini, saya menyadari beberapa hal;

Saya senang. Senang. Senang. Memilih untuk kuliah lagi di jurusan yang benar-benar saya sukai bisa bikin saya lupa diri. Kalau selama di S1 dulu saya kerap berpikir ‘anjir gue udah belajar apa aja sih selama ini…’  disini saya merasa saya mendapatkan banyaaaakkk sekali pengetahuan hanya dalam satu mata kuliah saja. Saya punya dosen-dosen yang sungguh brilian, terbuka, dan bisa membuat mahasiswa tertarik untuk menggali banyak hal. Jurusan saya juga memiliki perpustakaan sendiri dengan referensi yang bukan main luasnya, dan kelaspun diwarnai diskusi-diskusi tanpa otot terkait peristiwa aktual yang berhubungan dengan program studi.

Akhirnya saya bisa melewati perasaan bahwa belajar ternyata bisa menjadi semenyenangkan ini. Bahwa setiap hari sebelum saya berangkat, saya punya pertanyaan besar di kepala ‘gue bakal belajar apa ya hari ini’ dan dengan suka cita tergesa untuk menjawab tanda tanya besar tersebut dengan hadir di kelas. Akhirnya, dengan  riang saya mau bilang kalau saya adalah pelajar di ranah formal.

Saya kira mungkin hal-hal seperti ini yang luput dari pendidikan kita. Finlandia akan menghapuskan mata pelajaran wajib di sekolah sementara kita masih berkutat dengan pertanyaan perlukah memasukkan pelajaran agama atau tidak ke dalam kurikulum. Kita lupa bahwa kunci penting dalam pendidikan adalah membuat anak tertarik dan senang untuk belajar.

Saya ingat selama 12 tahun saya sekolah wajib, saya sering pura-pura sakit supaya saya bisa gak masuk sekolah. Atau, di sela-sela pelajaran saya izin ke toilet tapi malah jajan sampai jam pelajaran selesai. Jangan dicontoh, ya. Saya gak tau mungkin ada juga anak-anak lain yang melakukan hal-hal yang saya lakukan daripada harus duduk di kelas. Mendengarkan guru. Mengerjakan latihan yang susahnya minta ampun. Lalu pulang dengan PR yang menumpuk. Gimana gak s e t r e s. Makanya saya belajar mati-matian supaya saya bisa lulus ujian, naik kelas, dan lanjut ke jenjang pendidikan selanjutnya dengan harapan saya bisa dapat sesuatu yang lebih menyenangkan di fase selanjutnya. Tapi. Ternyata. Sama. Saja.

Di dunia perkuliahan S1 pun semuanya berjalan tak lebih membosankan dari sebelumnya. Satu kelas berisi 85 orang. Ceramah guru-guru. Senioritas. Superioritas. Saya gak ngerti lagi kalau saya gak terlibat dalam organisasi ini itu dan gak naik gunung plus jalan-jalan nggembel bareng teman, mungkin gak ada yang patut dikenang selama masa 4 tahun perkuliahan.

Kini saya (dan kita?) sadar bahwa ini adalah tantangan yang sungguh besar; bagaimana meredefinisi ulang makna sekolah, bahwa belajar itu menyenangkan!, bahwa mengenali potensi dan ketertarikan sangat penting untuk siswa. Saya belum tau bagaimana langkah yang tepat untuk menanggulangi itu, tapi saya harap siapapun telah sadar bahwa ada lubang besar dalam sistem pendidikan kita sehingga beberapa orang masih takut sekali dengan PKI. Sehingga ada yang senang sekali mengkafirkan orang lain tapi diam saja ketika seorang pejabat licin betul mengeluarkan diri dari tuduhan mega-korupsi. Sehingga ada yang membetulkan perilaku merayu petani-petani dengan memberikan kehidupan modern demi pembuatan pabrik besar di daerah petani tersebut.

Saya sudah agak jengah dengan sistem tapi mungkin saya bisa berharap pada siapapun yang mbaca tulisan ini; kalau kalian jadi orang tua, tolong gak usah paksa anak-anak kalian menyukai sesuatu, memaksa anak mengambil jurusan tertentu dengan dalih dulu mau mengambil itu tapi gak kesampaian, atau berpikiran tertutup pada pendapat anak yang sungguh berseberangan. Tolong. Jangan. Just encourage and watch them. Perkembangan dunia saiber ini bukan lagi perihal tarung otot mz mb, tapi juga tarung pikiran. Makanya menjadi bahagia dengan pilihan dan diri sendiri amatlah penting.

Terakhir, saya berdoa………….semoga siapapun bisa memilih apa yang mereka sukai dan merasakan apa yang saya rasakan belakangan; saya senang belajar!

Mudah

Biarkan aku kesulitan menghidu ceritamu yang

Bukan main banyaknya itu

Ketika temu sedang meringkuk jauh dalam ingin

Aku terdampar di pengasinganmu yang lain

Bertaruh, dimana letak perasaan dan semu

Sambil memungut riak yang kau ucap tanpa sadar

Aku menebak kesekian kali

Dan selalu urung berhenti pada kehati-hatianmu

Karena semua yang telah kita kalahkan

Tidak pernah pergi…….

Ada yang terus-terusan mengalahkanmu. Ia adalah pembunuh paling liar, penghancur paling handal, peninju paling ulung. Ia bisa membuatmu berlutut dan menjerit sekaligus. Ia menghambat saluran pernapasan dan membuatmu susah tidur. Ia kealpaan paling kerap. Ia bernama

 

 

 

 

 

Ekspektasi.

Menulis bebas #2

1

Akhirnya, saya jatuh cinta pada Jogja. Ia terlalu sederhana untuk tak dicintai siapapun. Setiap manusia akan luluh pada Jogja, entah pada pertemuan pertama, ketiga, kelima, keberapapun, pada akhirnya akan tunduk pada segala yang ia tawarkan. Tiga hari larut dalam perjalanan jahil karena Artjog, saya angkat topi. Kapan-kapan saya akan mendalaminya lagi.

2

Sudah satu bulan semenjak saya tak lagi memiliki akun instagram pribadi. Percayalah, satu bulan instagram hilang dari kehidupan privat, saya tak lagi punya kecenderungan untuk mengetahui kehidupan seseorang dan tak lagi punya hasrat memamerkan suatu hal. Saya sadar, belakangan, instagram membuat saya keranjingan. Ada sesuatu yang terus menarik saya membuka telepon pintar hanya untuk melihat apa yang teman-teman bagi dalam feed maupun stories mereka. Ketika itu pula saya sadar saya harus mengendalikan diri, dan sejauh ini, hidup saya justru semakin baik-baik saja.

3

Kalau boleh, saya ingin memangkas orang-orang yang terlalu self-centered ketika berbicara dan sedikit sekali mendengarkan orang lain. Bagaimana caranya menjadikan mereka tahu kalau hidup yang abu-abu ini tak selalu menjadikan mereka sebagai porosnya. Bahkan, beberapanya ada yang terus mengoceh biarpun lawan bicaranya sudah memasang tampang paling asam karena panjangnya frekuensi mereka berkata-kata. Dengan ini saya menganjurkan Bapak Muhadjir untuk mungkin memasukkan sedikit pelajaran tentang Seni Mendengarkan di tengah kurikulum nasional yang sedang tim bapak rancang dan ubah untuk kesekian juta kalinya. Semoga bapak ibu dan tim perumus sekalian mengerti bahwa apalah arti nilai ujian yang tinggi tapi minim kesadaran menghargai orang lain.

4

Kalau boleh lagi, saya ingin sekali keluar dari sistem yang sudah tidak lagi ideal dengan prinsip saya, dengan sesuatu yang saya lihat dan rasa bertujuan untuk kepuasan pribadi masing-masing, bukan tumbuh kembang bersama. Tapi entahlah, saya masih menjadi pengecut untuk terlalu memikirkan penilaian futuristik orang lain kalau saya bukanlah seseorang yang konsisten dengan apa yang saya pilih di awal. Tapi, apapun bisa berubah, kan?

5

Saya memiliki  trauma terhadap sebuah hal dan saya sedang belajar untuk berdamai dengan itu. Tidak, saya tidak pergi ke suatu tempat bernama psikiater atau sejenisnya, saya percaya bahwa untuk berbaikan dengan masa lalu yang saya butuhkan adalah bersahabat dengan diri sendiri. Dan proses merangkul masa lalu ternyata tidak pernah semudah mengupil ketika sendirian di dalam kamar. Saya harus melewati fase sesak karena melihat sesuatu yang berhubungan dengan ketakutan saya tersebut, tak jarang saya sampai menangis di tempat umum karena hal-hal menyebalkan itu. Dan terkadang saya ingin bilang “hidup tak semudah cocotmu” kalau ada seseorang yang merespon trauma saya dengan sungguh mudah dan sederhana. Memang susah kok menaruh kepala di sepatu orang lain. Saya paham betul.

6

Film Ziarah yang baru rilis beberapa minggu lalu adalah salah satu film brilian dari pegiat film nasional. Mereka membuat saya melenguh panjang ketika lampu bioskop dinyalakan. Bahkan sampai sekarangpun, saya masih tak habis pikir betapa brengseknya sang sutradara telah memaksa kita memaknai ulang sebuah perjalanan. Wajib tonton, netizen!

7

Setidaknya saya tidak punya pengaminan pada rencana masa depan yang pernah kamu dan saya lontarkan di sebuah warung makan kecil di tengah perjalanan kita. Kamu pernah bilang, kita harus pulang. Saya menganggukan kepala, tapi bagaimana? Saya benci titik, saya masih mau koma.

8

Saya sedang bergelut dengan sebuah proyek sosial pribadi dengan anak-anak di daerah prostitusi. Saya bersyukur pada Ia yang masih saja memberi saya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang saya senangi. Untuk teman-teman yang mau bertanya dan ingin terjun langsung dengan saya, tangan saya sungguh terbuka lebar. Saya butuh beberapa manusia lain untuk memberikan dampak yang lebih besar. Saya tunggu!

“Kita akan terus disini saja,

Membasahi puluhan kemarau

Dengan peluh dan binar”

Kita bergerak seperti bianglala;

Pelukmu menyusup di kedalaman

Menuntun seringaiku ketika kita

Berdiri di atas lembah 

Menertawai segala yang kita menangkan

Tapi kita alpa pada satu yang dipatutkan;

Seluruh yang berputar akan berhenti.

Kamu menangkap tanya di kepalaku,

“Kita akan pulang?”

“Kita harus pulang”

Sedih

Seorang teman ditinggal menikah oleh kekasihnya yang padahal beberapa minggu sebelumnya dijanjikan akan hidup bersama selama-lamanya. Nothing last forever, benar saja. Dua hari setelah kabar buruk tersebut menimpanya, ia minta dicarikan kenalan baru dengan alasan biar cepat move on. Merespon permintaan itu, saya buru-buru menjawab, “Gamau dinikmatin dulu sedihnya?” ”Gak, Chen”, dengan tak kalah sigap dan tegas ia menjawab pertanyaan saya barusan. Kemudian terbitlah percakapan-percakapan sentimentil nan emosionil sampai akhirnya teman saya tersebut bertanya “Kalo bisa bahagia terus, kenapa harus sedih?”

Menarik, ya. Kalau disuruh pilih mau bahagia atau sedih pasti lebih banyak orang-orang yang memilih bahagia. Yaiyalah, ngapain sedih, udah sakit hatinya, gak enak perasaannya, capek, pula. Tapi kalau saya yang diminta memilih, saya akan jawab ‘tergantung’. Iya, tergantung keadaan saya sedang berada pada titik lebih sedih atau lebih bahagia saat itu.

Beberapa tahun belakangan, saya belajar untuk menikmati kesedihan. Dan ternyata sedih tidak pernah terasa semenyedihkan itu ketika saya berusaha untuk menerima kesedihan tersebut sebagai sesuatu yang proporsional. Saya baru paham kalau sedih adalah satu tanda untuk mengingatkan kalau kita manusia. Makanya, kadang kalau saya merasa saya sedang bahagia terus, saya bakal cari cara supaya saya sedih, sampai saya menangis tersedu-sedu, bahkan. Saya akan menonton film atau video yang bisa bikin saya nangis bombay, mengingat masa lalu yang menyedihkan, atau memikirkan apapun yang merangsang air mata saya keluar. Setelah ritual mengekspresikan kesedihan itu selesai, yauwis, lega lah saya. Dan percayalah, sehabis menangis karena kesengajaan itu hati saya jadi lebih tenang walaupun kesannya airmata yang dibuang tersebut hanyalah seonggok artifisial.

Eh ya ternyata, ritual saya itu baru saya ketahui sudah dibuat di Jepang untuk dilakukan secara massal dan dinamai sebagai acara Rui-katsu. Sekumpulan orang akan diundang untuk melakukan apapun yang dapat memicu airmata mereka keluar dan merasakan kesedihan mendalam. Belum kebayang seperti apa berisiknya ruangan tersebut dengan suara tarik-ulur ingus karena semuanya dipastikan menangis tersedu-sedu. Lalu ada juga Cry Therapy yang kerap dilakukan oleh beberapa terapis di belahan bumi yang bulat (atau datar?) ini. Sebuah penelitian menyebutkan terapi tersebut sungguh berhasil mengurangi tingkat depresi seseorang serta merangsang pasien untuk berbagi lebih dalam.

Betapa kesedihan adalah sebuah perasaan yang sungguh wajar dan membawa keuntungan. Coba, sudah berapa juta penulis dan musisi di dunia ini yang mendapatkan inspirasi dari sesuatu bernama kesedihan? Kadang-kadang saya sedikit geram juga memperhatikan media sosiyel yang dikuasai generasi milenial ini dengan pameran kebahagiaan dibuntuti kepsyen ‘bahagia itu sederhana’ dan lain sebagainya. Padahal mah belum tau juga ya, hidupnya memang sebahagia itu atau tidak. Mengapa mereka tak sering juga memamerkan kesedihannya?

Dan tibalah saya pada sebuah pernyataan bahwa saya tumbuh dalam entitas dimana kesedihan dianggap hal yang lebih privat daripada kebahagiaan, dimana kesedihan bukanlah sesuatu yang lumrah, bahkan beberapanya diajarkan untuk menghindari kesedihan dari kecil “gaboleh nangis ya, kan kamu anak pinter….” padahal apa iya orang pintar itu tidak boleh menangis, wahai netizen? Rasanya saya ingin sekali berteriak kepada orang-orang “menangislah… menangislah!” ya tapi nanti nilai kewarasan saya berkurang di mata para pemberi label alias manusia. Ndak mau ya, saya masih mau bersosialisasi supaya saya jadi bagian dari pemberi label tersebut. Hehehehe.

Jadi begini saja, dunia ini kan katanya sudah menyedihkan, apa perlu kita merayakan kesedihan itu lagi? Sekali lagi jawaban saya, tergantung. Kalau hidupmu dirasa menyedihkan terus, maka carilah kebahagiaan yang katanya sederhana itu. Atau kalau hidupmu kelewat bahagia dalam jangka waktu yang lama, maka rabalah kesedihan. Karena ada yang namanya Tawaazun dalam islam yang berarti keseimbangan di antara dua jalan yang saling bertentangan. Kalau dari belahan Tiongkok, itu disebut Yin Yang. Walau katanya (daritadi katanya terus ya?) hidup ini adalah roda yang tak pernah berhenti berputar, tapi menurut saya sih tak ada salahnya juga kalau sebagai manusia, kita yang berusaha memutar roda tersebut supaya kita tidak diam di tempat.

Karena menyeimbangkan itu perlu, maka bisa dimulai dari menyedihkan kebahagiaan dan membahagiakan kesedihan. Halah, ribet ya. Begitulah.

Terakhir, mau tau apa yang lebih sentimentil menurut saya dari menikmati kesedihan? Buat saya, ia adalah sebuah ruang untuk memberi nafas pada sesuatu. Saya selalu belajar merasakan dari situ. Kesedihan seperti laut, ia adalah tempat ketelanjangan perasaan. Padanya saya bisa berteriak tanpa bersuara dan bisa merasa mati tanpa perlu hidup. Kesedihan adalah rumah dari segala gelak yang pernah diukir secara paksa.

Dan saya akan pulang pada kesedihan itu.

Jatuh cinta kedua

Beberapa bulan belakangan saya sibuk mencari sesuap nasi dengan bekerja di sebuah lembaga internasional yang fokus pada bidang perlindungan anak. Kerjaan saya setiap harinya adalah mengunjungi paud-paud di Jakarta Utara dan bercengkrama dengan manusia-manusia pritil alias anak-anak kecil sekaligus untuk pengambilan data.

Walah, biarpun ini bukan pertama kalinya saya berurusan dengan anak-anak, namun seperti yang semua spesies di dunia ini tau, anak-anak adalah makhluk paling gak bisa ditebak sedunia. Tapi biarpun begitu, gak ada orang dewasa yang gak mau lagi mengulang masa anak-anak mereka; ketika menangis kencang boleh dilakukan di tempat umum, ketika masalah terberat hanyalah perkara harus tidur siang, dan ketika berlaku buruk gak akan diberikan sanksi sosial.

Eh sebentar,

Saya menulis ini untuk apa sih?

Ah ya, saya mau menyampaikan kepada diri saya sendiri kalau setelah berkali-kali terjun di dunia anak-anak, saya semakin sadar kalau saya telah menemukan jatuh cinta saya yang kedua, yaitu kepada anak-anak, setelah yang pertama, menulis. Pernah gak kalian ngerasain ketika kalian melakukan sesuatu, berulang-ulang, namun kalian gak akan pernah bosan? Kalian merasa itu adalah sesuatu yang membuat kalian berkembang, dan tanpa itu kalian akan menjadi kosong. Pernah gak? Iya, begitulah perihalnya saya dengan anak-anak dan menulis.

Apa yang saya rasakan belakangan adalah saya menggebu setiap pagi sambil berpikir “anak-anak kayak gimana ya yang bakal saya temuin hari ini? Apa ya yang bisa saya lakukan sama mereka?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bakal bikin saya gak sabar untuk melakukan pekerjaan saya. Dan bener aja, sesampainya ketemu mereka, waaaah, bahagianya saya kadang berada di ubun-ubun sampai saya mengucap syukur berkali-kali karena masih diberikan kesadaran untuk mengerjakan apa yang saya senangi.

Tapi, gak selalu saya bahagia terus. Kadang, ada hal-hal kecil yang bikin saya menangis sebelum tidur kalau ingat cerita anak-anak itu. Pernah diperkosa, dipukul orangtua pakai balok kayu, atau melihat bapaknya selingkuh lalu sering menampar ibu. Cerita-cerita seperti itu yang selalu bikin saya ngilu, dan kadang bikin saya kepikiran sampai gak bisa tidur sambil berandai-andai tentang apa yang bisa saya lakukan untuk anak-anak seperti mereka.

Realita-realita brengsek macam itu yang menyeret saya untuk mengasihani diri saya sendiri. Kalau punya kesenangan jangan mau enaknya doang dong, apa yang bisa dilakukan untuk setidaknya meminimalisir tindakan kebinatangan itu? Bahwasanya pekerjaan saya yang belakangan ini membuat saya sadar, mungkin, penemuan passion tersebut tidak perlu saya umbar-umbar kalau saya belum bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat di bidang itu. Bahwa ternyata saya masih egois, saya tau apa yang saya senangi tapi hanya menggunakan itu untuk pengembangan diri saya sendiri, padahal semestinya saya memakai itu untuk membawa kebermanfaatan bagi orang banyak. Bukankah hidup perihal bagaimana keberadaan kita berguna untuk sesama?

Dan apabila besok lusa saya gak mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan ini lagi, mungkin inilah waktu yang tepat untuk berbenah diri. Berkaca. Bertanya. Apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi bermanfaat dalam jatuh cinta saya?

Betapa beberapa tempat memang punya arti tersendiri dalam hidup

Diantaranya akan membuat saya tersenyum sungging ketika diingat, dan sebagiannya lagi membuat saya merenung serta meringis kecut, direnteti perasaan menyesal dan tidak.

Tempat-tempat itu mungkin tidak sengaja saya temui, seperti sebuah entitas antah berantah yang bahkan namanya saja sama sekali asing di telinga. Sebut saja Besuki, sebuah entah yang tersimpan di hati kecil saya ketika melakukan perjalanan dengan dua teman lelaki bodoh dan slengean. Atau Masawah, sebuah entah yang lain yang selalu berhasil membuat saya jatuh terhadap cerita selama satu bulannya.

Tempat lain memang sengaja saya datangi, saya singgahi, dan tanpa saya sadari menjalar ke dalam perasaan.

Ia adalah Jatinangor, sebuah wajah dengan senyum kembang sederet gigi, bahak tawa, kusam kusut, dan sembab penuh air mata. Tak bisa lagi saya deskripsikan Jatinangor dengan abcdefghijklmnopqrstuvwxyz karena ia adalah saksi berkembangnya saya menjadi saya. Yang menemani saya memahami Zarathustra hingga dini hari, yang membangunkan saya untuk mengajar bahasa inggris di tengah huru-hara tugas kampus, yang menyeret saya kepada manusia-manusia maha brengsek dan menyenangkan, dan yang membuat saya jatuh bangun jatuh bangun karena perasaan. Tempat itu adalah Jatinangor, selalu Jatinangor, yang mengambil beberapa bagian dalam hati dan kepala.

Hati saya juga punya fragmen untuk Jakarta, ruang yang kerap membuat saya waras dan gila sekaligus. Jakarta adalah apa yang saya ciptakan untuk menyadarkan diri bahwa satu-satunya yang membuat para homo ekonomikus bertahan hidup adalah harapan. Dari Jakarta saya hidup kemudian mati kemudian hidup lagi. Setidaknya, begitulah cara Jakarta menjungkirbalikkan saya.

Lalu, Serang. Bagian paling pertama dalam peremajaan. Tentang menjadi telinga dan keras suara. Menjadi teman, kakak, adik, ibu, ayah. Yang membuat saya mudah dan susah tidur. Tiga tahun paling tak bisa ditebak karena banyak sekali pengalaman.

Pun, Thailand. Yang selalu saya nantikan. Ia adalah badut berhidung bundar di tengah pasar malam. Bahwa di tengah gelap selalu ada yang membuat tertawa. Satu bulan setengah paling bahagia menjadi warga negara asing. Thailand selalu menjadi pengingat bahwa kebaikan adalah bahasa universal dan bagaimana menghadapi perbedaan yang tak pernah sama seperti di buku kewarganegaraan dulu.

Hati saya pula selalu tersisa untuk Madasari, Menganti, Parai, Cikuray, Papandayan, Prau, Sindoro, dan Gede. Mereka adalah apa yang selalu menelanjangkan perasaan. Yang membuat saya mengingat, merancang, meracau. Yang selalu menyadarkan kalau ada entitas paling Maha yang lebih besar dari apapun, dan saya hanya titik kecil dari segala yang Ia ciptakan. Saya adalah apa, bukan siapa, di hadapanNya.

Saya sadar, betapa beberapa tempat memang punya arti tersendiri dalam hidup.

Betapa mereka akan terus mengingatkan kalau hidup adalah tentang perjalanan-perjalanan kecil yang tetap membuat kita menjadi manusia.

 

Menulis bebas

1

Belakangan ini saya benci melakukan basa-basi. Kegiatan itu sangat menguras energi untuk memproduksi kalimat normatif dan senyum yang disungging-sunggingkan. Mungkin ternyata saya butuh istirahat dari menjadi adaptatif, karena layang-layangpun akan tiba pada situasi menyangkut di pohon, atap, atau kabel listrik.

2

Saya sedang nyaman dengan bermonolog. Saya akan merekam omongan saya menggunakan perangkat canggih abad ini; telepon pintar. Saya akan berbicara apa saja; perihal kegiatan saya satu hari penuh, perihal perasaan yang sedang saya alami, atau perihal pendapat saya mengenai sesuatu. Saya mengeluarkan semuanya; setelah itu rekaman monolog tersebut akan saya dengarkan ulang. Mungkin saya sedang bosan dengan menulis dan ternyata monolog adalah pengganti sementara yang tepat untuk meluapkan perasaan. Kadang kamu tak perlu orang lain untuk bercerita, kan?

3

Kepala saya masih menjadi gudang terjorok di dunia. Ia terus memproduksi barang-barang yang sudah tidak bisa dipakai dan segala yang mungkin dilupakan namun masih bisa digunakan. Saya tak mampu membersihkan walaupun sapu, kemoceng, pengharum ruangan sudah tersedia di hadapan. Saya tak mampu, atau tak ingin. Saya tidak paham.

4

Sementara pikiranmu jelas dan mempunyai alur, punya saya kok rumit sekali. Ia lapang dan bebas untuk diisi apapun. Ia tak sesederhana kalimatmu yang berkali-kali kau teriakkan. Pikiran saya mengambang; dan di sela-sela itu masih terpajang bau tubuhmu, walau akan saya jatuhkan atau saya peluk hingga saya padam.

5

Saya butuh menjadi puas. Walau saya tau bahagia bisa didapat dari hal-hal sederhana, namun saya butuh merasa puas. Mungkin bisa saya dapat dari berjalan jauh sendirian, menerbitkan buku, atau pada akhirnya saya bisa mendaki gunung lain lagi hingga sebelum saya memejamkan mata, saya akan berucap syukur karena saya sungguh puas atas sebuah hal yang sudah saya lakukan.

6

Perasaan saya tak butuh dipahami, tak perlu dibalas, tak usah dipikirkan. Saya tau kalau tak semua hal mesti resiprokal. Mungkin saya butuh ketidakadilan.

7

Saya selalu sedih seusai mendapat senang. Saya lupa kalau hidup adalah lingkaran yang tak pernah berhenti berputar.