Menulis Bebas #4

1

Mari kita kirimkan doa atas kejadian mencekam yang belakangan terjadi di bumi pertiwi. Sadar bahwa paham bajingan yang sungguh ekstrim dan radikal sudah sampai di tahap penginternalisasian pada anak-anak dan remaja, saya boleh berbesar hati karena dari saya kecil, bapak saya mengajarkan sebaliknya. Bapak saya bukanlah individu yang akan menakut-nakuti anaknya dengan neraka agar sholat lima waktu. Ia adalah orang yang menjelaskan bagaimana gerakan-gerakan sholat bisa membantu menyehatkan tubuh kalau dilakukan dengan benar. Ia juga salah satu yang bilang, lebih penting memahami isi al-quran daripada susah payah menghafalnya, walaupun memahaminya memang jauh lebih sulit daripada mengulangnya berkali-kali. Ia pun yang mengajarkan saya pada sekelumit filsafat dan tetek-bengek tasawuf yang sulit sekali saya pahami maksudnya. Bapak saya adalah manusia paling depan yang akan berteriak lantang menolak terorisme karena menurutnya, Tuhan adalah satu tujuan akhir dan ada banyak macam kendaraan yang bisa dipakai menujuNya. Maka mengkofar-kafirkan orang lain dan merasa diri paling benar, adalah hal paling dungu yang dilakukan manusia.

Biarpun beberapa orang di grup wasap keluarga besar kerap menyebutnya keblinger karena terlalu pintar, bapak tetap woles dan saya tetap bangga. Bapak saya tidak pernah mengajarkan anaknya untuk merendahkan kepercayaan orang lain.

2

Tolong beri tahu saya bagaimana tips and trick menjadi lebih percaya diri menggunakan make up. Sudah 23 tahun saya hidup dan saya masih belum paham dimana manfaat make up untuk wajah saya yang sungguh biasa-biasa saja ini. Beberapa kali saya menggunakan make up, baik itu mencoba sendiri melalui tutorial di youtube ataupun dipakaikan teman, sungguh, saya tidak pernah merasa saya lebih baik ketika memakai make up. Justru, sebaliknya. Make up memberatkan saya, ia membuat saya seperti badut yang memakai topeng untuk menutupi identitas asli yang mungkin tidak ingin diketahui orang banyak. Dan, make up membutuhkan banyak uang, sementara saya lebih ikhlas kalau tabungan saya dibelikan sepatu atau buku. Apa mungkin ini pertanda bahwa saya sangat cocok menjadi sobat qismin? Huhuhu.

3

Keseringan melamun di banyak tempat, saya sadar bahwa saya adalah generasi gagal dari sistem pendidikan Indonesia. Bagaimana bisa semakin besar saya semakin tidak tahu apa cita-cita saya? Bagaimana bisa semakin besar semakin banyak yang ingin saya lakukan karena saya belum menemukan apa yang benar-benar ingin saya lakukan? Mungkin saya iri dengan beberapa orang yang sudah menemukan ketertarikannya dari kecil, dan itu dibantu dengan keluarga serta pendidikannya yang mahal minta ampun yang satu kelas hanya berisi sepuluh orang dengan dua guru yang fasih berbagai macam bahasa. Sementara guru saya dulu, hanya menjelaskan cita-cita sebatas profesi. Bagaimana kalau cita-cita saya tidak ingin menjadi, melainkan melakukan? Bagaimana, Bu? Mohon dijawab Bu, jangan memberikan soal latihan melulu kalau di kelas.

4

Saya jengkel betul pada orang-orang yang bertanya “kenapa pilih kajian gender? Itu nanti kerjanya apa?” ketika tahu bahwa kajian gender adalah jurusan saya sekarang. Rasanya ingin betul menjawabnya hanya dengan dua kata “WOILAH BRO” karena please lah, tidak bolehkah orang lain mengambil jurusan tertentu karena ia suka? Karena ia tertarik mempelajari isu-isu yang ada di jurusan tersebut? Haruskah mengaitkannya dengan mau jadi apa? Dasar budak duit. Eh ya saya juga, tapi kan setidaknya sekarang saya tidak sebudak itu untuk mempelajari jurusan tertentu hanya karena potensi pekerjaannya top markotop. Saya memilih jurusan kajian gender karena saya suka. Karena saya senang. Karena saya ingin. Masalahnya dimana?

5

Begini ya, kalau bisa, mari kita jauhkan manusia-manusia yang nampaknya susah betul mendengarkan orang lain. Mereka yang mengocehnya banyak betul, yang tidak memberikan lawan bicaranya kesempatan untuk berbicara, yang bahkan ketika lawan bicaranya memulai untuk menanggapi, mereka akan memotongnya untuk berbicara lagi. Yang bahkan lagi ketika mereka bertanya kepada lawan bicaranya, itu hanyalah salah satu formalitas untuk melanjutkan ceritanya lagi. Oh Gusti nu agung, bolehkah Engkau mengurangi spesies macam itu? Saya memang agak kaget ketika menemukan banyak orang seperti itu di sekitar saya sekarang, karena di zaman S1 dulu, teman-teman sejurusan saya sangat terlatih untuk mendengarkan orang lain. Yha, bahkan ada mata kuliahnya tersendiri untuk itu. Makanya, semua orang bisa jadi tempat sampah waktu S1 dulu, dan saya terbiasa dengan itu. Kini ketika menghadapi kenyataan yang jauh lebih besar dan brengsek, saya kelimpungan…………

6

Tuhan sedang apa, ya?

Advertisements

Betapa kematian sungguh dekat, Danarto

Saya bukan penggemar kelas berat Danarto yang sudah melahap setiap bukunya. Yang saya ingat, saya pernah hampir gila karena Adam Ma’rifat, Godlob, dan Sayap Sayap Jibril. Berani sumpah, saya akan angkat topi pada siapapun yang mampu memahami seluruh tulisan Danarto. Kesintingannya memadukan sastra dengan tasawuf membuat saya edan ketimbang ketika saya membaca tulisan Sutardji.

Kata bapak saya, belajar tasawuf sulitnya minta ampun. Ia pernah mendekam 6 bulan di sebuah pondok pesantren di Malang buat belajar tasawuf, dan setelah 6 bulan itu, ia memberi kesan “wah bener deh tasawuf tuh, keblinger!”. Bayangkan, betapa Danarto sungguh digdaya menyatukan itu dengan sastra.

Dari Danarto saya sadar bahwa cara saya memandang Tuhan dan agama sungguh dangkal. Saya masih berhenti di permukaan, saya belum mampu menyelami iman dengan begitu dalam namun terlihat sederhana. Bisa jadi ia kerap tersenyum mendengar betapa mudahnya belakangan manusia-manusia yang mengaku beragama itu bahkan mengomoditikan agamanya sendiri. Darinya saya juga mengerti kalau menulis tidak harus melihat pasar dan permintaan mayoritas. Saya yakin betul, Danarto menulis untuk menjadi dirinya, untuk pergi dan kembali pulang pada dirinya sendiri.

Baru saja, Danarto pergi jauh karena sebuah insiden yang mungkin tidak pernah ia prediksi ketika ia makan pagi. Kalau diberikan kesempatan untuk memberikan satu pertanyaan sebelum ia tenang menghembuskan napas terakhirnya, saya akan bertanya “Bapak, bagaimana perasaan bapak terkait kasus yang menimpa Ibu Sukmawati kemarin?” Mungkin ia sedih. Mungkin ia tidak menjawab. Atau mungkin ia akan menyahut “orang-orang itu belum pernah mbaca tulisan saya kali ya?” sambil tertawa terbahak-bahak.

Selamat jalan Danarto. Saya berharap seseorang yang menabrak anda bukanlah antek-antek ekstremis yang sengaja mengincar anda karena baru saja tahu, bahwa karya-karya anda juga dianggap menistakan agama mereka.

Mari masturbasi

Sumpah, saya bukan dan gak mau mengidentifikasikan diri saya sebagai feminazi yang ndenger hal-hal misoginis dalam becandaan antar karibpun bisa bikin saya sensi setengah mati. Saya juga kadang masih selow ae kalau lihat perempuan kegirangan dicatcalling sama bang beca yang lagi nongkrong di perempatan. Atau, saya masih sering ketawa-tiwi ngomongin perempuan-perempuan yang kelihatannya gak bisa betul hidup sedetik tanpa make up. Lah terus saya tetep jadi feminis? Woiya jelas, terlebih untuk diri saya sendiri. Tapi terkadang, what we just can do is silently living in this shit situation. Patriarki udah sekejam itu loh, I know its not an easy job to work against patriarchy, dan menjadi sadar terlebih dulu akan keadaan itu udah lebih dari cukup. Kalau kata dosen saya, “please, we dont have to be a 24/7 feminist. As long as u can decide something without any voices from others inside your head, its enough then”

Kenapa preambulnya seperti itu? Karena saya ingin menuliskan sesuatu yang pasti akan ditanggapi dengan pernyataan-pernyataan bahwa saya ini feminis garis keras atawa radikal. Padahal mah, saya penganut feminis liberal, for your information. Hehehe.

Ya baiklah, jadi tulisan ini saya buat karena selalu terngiang-ngiang perkataan dosen saya di mata kuliah Agama dan Seksualitas semester lalu. Saya ingat sekali, hari itu ia bilang “saya ini baru pas punya anak tiga loh, tau dan bisa ngerasain orgasme. Sebelumnya mah…. hahahaha” dan dilanjut dengan tawa seisi kelas. Saya juga pernah membicarakan hal-hal semacam ini dengan teman-teman perempuan dan gak banyak respon mereka adalah negatif. “jijik ih” “udah ah gausah diomongin” “apaansih omongannya” dan lain sebagainya. Sejak itu, saya jadi punya pertanyaan besar; sebegitu tabukah hal seksual dibicarakan perempuan? Eh, atau mungkin lingkar pertemanan saya yang terlalu alim ya? Hadeh.

Padahal menurut saya, penting sekali untuk membicarakan hal-hal seksual bagi perempuan karena itu adalah salah satu cara untuk memahami tubuh. Karena tubuh, bukan cuma apa yang nampak di permukaan, ia juga hadir di dalam sebagai sesuatu yang menopang hidup perempuan. Saya sadar, salah satu bagian tubuh yang sangat tabu untuk dikenali perempuan adalah, vagina. Padahal, vagina adalah sesuatu yang krusial bagi perempuan. Biar saya ulangi sekali lagi apa yang saya bilang di atas kalau patriarki sudah bertindak sejauh dan sekejam itu, maka, ketidakmengenalan perempuan terhadap vaginanya lebih awal adalah salah satu contohnya.

Saya saja bahkan, baru tau bagian mana saja yang dipotong ketika dulu saya disunat waktu kecil. Setelah tau, saya segera melihat dan memeriksanya sendiri dengan perasaan “oh ternyata ini…” mungkin gak sedikit perempuan lain yang sepengalaman dengan saya. Saya akan bilang dengan sedikit menyesal kalau….. selamat, kita adalah produk-produk patriarki. Ehehe.

Hal lain lagi yang tabu dibicarakan di kalangan perempuan mengenai vagina adalah tentang masturbasi. Saya kadang bosan juga mendengar pernyataan teman laki-laki kalau sedang mengomentari perempuan “njir bahan bacol tuh” “mau sabunan, bro?” atau bahkan ribut tentang pengalaman mereka yang pernah masturbasi berjamaah sambil nonton bokep.

Ingin rasanya berteriak pada dunia ini mengapa kok gak adil betul seksualitas laki-laki kerap dirayakan sementara seksualitas perempuan disembunyikan. Tapi saya bukan judul ftv indosiar yang terlampau dramatis untuk berteriak pada dunia semacam itu, jadi pikiran-pikiran tersebut lebih baik saya tuliskan saja. Masturbasi, sama halnya dengan laki-laki, semestinya adalah sesuatu yang bisa dan lumrah dibicarakan untuk perempuan. Agar setara? Ya bukan. Sederhananya karena itu enak. EH bukan, maksudnya, karena masturbasi adalah alamiah dan setiap manusia berhak mengetahui serta merasakan itu.

Saya cuma gak mau aja teman-teman perempuan lain merasakan apa yang dosen saya rasakan. Saya mau perempuan bisa mengenali tubuhnya dengan baik dan itu bisa dilakukan melalui masturbasi serta merasakan orgasme. Masturbasi, adalah salah satu hal personal dan politis yang menurut saya sungguh feminis untuk (sedikit) menentang patriarki. Bukan hal mudah untuk mulai mencari tau apa yang bisa merangsang perempuan, kemudian mencari titik mana yang bisa membantu perempuan untuk melakukan masturbasi, sampai pada merasakan orgasme sebagai puncak dari segala usaha tersebut. Hal-hal itu, adalah salah satu cara perempuan untuk memahami dan merasakan tubuhnya. Jelas dong, gak ada salahnya dengan itu.

Kalau boleh saya bilang lagi, masturbasi, adalah salah satu cara paling puitik untuk merayakan seksualitas perempuan. Bukan cuma dinilai sebagai simbol kebebasan, kalau kata Sartre, masturbasi memiliki nilai kenikmatan tertinggi sebagai penghargaan dan kecintaan diri kita sebagai manusia. Oleh karena itu, menganggap tabu dan bahkan enggan untuk membicarakan masturbasi, adalah sebuah kesia-siaan.

Dengan ini saya gak menganjurkan perempuan untuk terus masturbasi lalu membenci dan menganggap tidak memerlukan laki-laki, ya. Not every feminist hates men. Saya cuma mau menyampaikan kalau sudah saatnya perempuan gak lagi merasa tabu dan malu untuk membicarakan seksualitasnya. Saya juga hanya mau bilang kalau masturbasi, adalah salah satu cara untuk berkenalan dengan tubuh perempuan. Salah satu cara. Kalau kamu punya cara lain untuk merasakan tubuhmu, wis lakukan. Yang jelas kalau kata orang-orang, masturbasi itu ena. Gitu aja.