Ada yang terus-terusan mengalahkanmu. Ia adalah pembunuh paling liar, penghancur paling handal, peninju paling ulung. Ia bisa membuatmu berlutut dan menjerit sekaligus. Ia menghambat saluran pernapasan dan membuatmu susah tidur. Ia kealpaan paling kerap. Ia bernama

 

 

 

 

 

Ekspektasi.

Menulis bebas #2

1

Akhirnya, saya jatuh cinta pada Jogja. Ia terlalu sederhana untuk tak dicintai siapapun. Setiap manusia akan luluh pada Jogja, entah pada pertemuan pertama, ketiga, kelima, keberapapun, pada akhirnya akan tunduk pada segala yang ia tawarkan. Tiga hari larut dalam perjalanan jahil karena Artjog, saya angkat topi. Kapan-kapan saya akan mendalaminya lagi.

2

Sudah satu bulan semenjak saya tak lagi memiliki akun instagram pribadi. Percayalah, satu bulan instagram hilang dari kehidupan privat, saya tak lagi punya kecenderungan untuk mengetahui kehidupan seseorang dan tak lagi punya hasrat memamerkan suatu hal. Saya sadar, belakangan, instagram membuat saya keranjingan. Ada sesuatu yang terus menarik saya membuka telepon pintar hanya untuk melihat apa yang teman-teman bagi dalam feed maupun stories mereka. Ketika itu pula saya sadar saya harus mengendalikan diri, dan sejauh ini, hidup saya justru semakin baik-baik saja.

3

Kalau boleh, saya ingin memangkas orang-orang yang terlalu self-centered ketika berbicara dan sedikit sekali mendengarkan orang lain. Bagaimana caranya menjadikan mereka tahu kalau hidup yang abu-abu ini tak selalu menjadikan mereka sebagai porosnya. Bahkan, beberapanya ada yang terus mengoceh biarpun lawan bicaranya sudah memasang tampang paling asam karena panjangnya frekuensi mereka berkata-kata. Dengan ini saya menganjurkan Bapak Muhadjir untuk mungkin memasukkan sedikit pelajaran tentang Seni Mendengarkan di tengah kurikulum nasional yang sedang tim bapak rancang dan ubah untuk kesekian juta kalinya. Semoga bapak ibu dan tim perumus sekalian mengerti bahwa apalah arti nilai ujian yang tinggi tapi minim kesadaran menghargai orang lain.

4

Kalau boleh lagi, saya ingin sekali keluar dari sistem yang sudah tidak lagi ideal dengan prinsip saya, dengan sesuatu yang saya lihat dan rasa bertujuan untuk kepuasan pribadi masing-masing, bukan tumbuh kembang bersama. Tapi entahlah, saya masih menjadi pengecut untuk terlalu memikirkan penilaian futuristik orang lain kalau saya bukanlah seseorang yang konsisten dengan apa yang saya pilih di awal. Tapi, apapun bisa berubah, kan?

5

Saya memiliki  trauma terhadap sebuah hal dan saya sedang belajar untuk berdamai dengan itu. Tidak, saya tidak pergi ke suatu tempat bernama psikiater atau sejenisnya, saya percaya bahwa untuk berbaikan dengan masa lalu yang saya butuhkan adalah bersahabat dengan diri sendiri. Dan proses merangkul masa lalu ternyata tidak pernah semudah mengupil ketika sendirian di dalam kamar. Saya harus melewati fase sesak karena melihat sesuatu yang berhubungan dengan ketakutan saya tersebut, tak jarang saya sampai menangis di tempat umum karena hal-hal menyebalkan itu. Dan terkadang saya ingin bilang “hidup tak semudah cocotmu” kalau ada seseorang yang merespon trauma saya dengan sungguh mudah dan sederhana. Memang susah kok menaruh kepala di sepatu orang lain. Saya paham betul.

6

Film Ziarah yang baru rilis beberapa minggu lalu adalah salah satu film brilian dari pegiat film nasional. Mereka membuat saya melenguh panjang ketika lampu bioskop dinyalakan. Bahkan sampai sekarangpun, saya masih tak habis pikir betapa brengseknya sang sutradara telah memaksa kita memaknai ulang sebuah perjalanan. Wajib tonton, netizen!

7

Setidaknya saya tidak punya pengaminan pada rencana masa depan yang pernah kamu dan saya lontarkan di sebuah warung makan kecil di tengah perjalanan kita. Kamu pernah bilang, kita harus pulang. Saya menganggukan kepala, tapi bagaimana? Saya benci titik, saya masih mau koma.

8

Saya sedang bergelut dengan sebuah proyek sosial pribadi dengan anak-anak di daerah prostitusi. Saya bersyukur pada Ia yang masih saja memberi saya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang saya senangi. Untuk teman-teman yang mau bertanya dan ingin terjun langsung dengan saya, tangan saya sungguh terbuka lebar. Saya butuh beberapa manusia lain untuk memberikan dampak yang lebih besar. Saya tunggu!

“Kita akan terus disini saja,

Membasahi puluhan kemarau

Dengan peluh dan binar”

Kita bergerak seperti bianglala;

Pelukmu menyusup di kedalaman

Menuntun seringaiku ketika kita

Berdiri di atas lembah 

Menertawai segala yang kita menangkan

Tapi kita alpa pada satu yang dipatutkan;

Seluruh yang berputar akan berhenti.

Kamu menangkap tanya di kepalaku,

“Kita akan pulang?”

“Kita harus pulang”

Sedih

Seorang teman ditinggal menikah oleh kekasihnya yang padahal beberapa minggu sebelumnya dijanjikan akan hidup bersama selama-lamanya. Nothing last forever, benar saja. Dua hari setelah kabar buruk tersebut menimpanya, ia minta dicarikan kenalan baru dengan alasan biar cepat move on. Merespon permintaan itu, saya buru-buru menjawab, “Gamau dinikmatin dulu sedihnya?” ”Gak, Chen”, dengan tak kalah sigap dan tegas ia menjawab pertanyaan saya barusan. Kemudian terbitlah percakapan-percakapan sentimentil nan emosionil sampai akhirnya teman saya tersebut bertanya “Kalo bisa bahagia terus, kenapa harus sedih?”

Menarik, ya. Kalau disuruh pilih mau bahagia atau sedih pasti lebih banyak orang-orang yang memilih bahagia. Yaiyalah, ngapain sedih, udah sakit hatinya, gak enak perasaannya, capek, pula. Tapi kalau saya yang diminta memilih, saya akan jawab ‘tergantung’. Iya, tergantung keadaan saya sedang berada pada titik lebih sedih atau lebih bahagia saat itu.

Beberapa tahun belakangan, saya belajar untuk menikmati kesedihan. Dan ternyata sedih tidak pernah terasa semenyedihkan itu ketika saya berusaha untuk menerima kesedihan tersebut sebagai sesuatu yang proporsional. Saya baru paham kalau sedih adalah satu tanda untuk mengingatkan kalau kita manusia. Makanya, kadang kalau saya merasa saya sedang bahagia terus, saya bakal cari cara supaya saya sedih, sampai saya menangis tersedu-sedu, bahkan. Saya akan menonton film atau video yang bisa bikin saya nangis bombay, mengingat masa lalu yang menyedihkan, atau memikirkan apapun yang merangsang air mata saya keluar. Setelah ritual mengekspresikan kesedihan itu selesai, yauwis, lega lah saya. Dan percayalah, sehabis menangis karena kesengajaan itu hati saya jadi lebih tenang walaupun kesannya airmata yang dibuang tersebut hanyalah seonggok artifisial.

Eh ya ternyata, ritual saya itu baru saya ketahui sudah dibuat di Jepang untuk dilakukan secara massal dan dinamai sebagai acara Rui-katsu. Sekumpulan orang akan diundang untuk melakukan apapun yang dapat memicu airmata mereka keluar dan merasakan kesedihan mendalam. Belum kebayang seperti apa berisiknya ruangan tersebut dengan suara tarik-ulur ingus karena semuanya dipastikan menangis tersedu-sedu. Lalu ada juga Cry Therapy yang kerap dilakukan oleh beberapa terapis di belahan bumi yang bulat (atau datar?) ini. Sebuah penelitian menyebutkan terapi tersebut sungguh berhasil mengurangi tingkat depresi seseorang serta merangsang pasien untuk berbagi lebih dalam.

Betapa kesedihan adalah sebuah perasaan yang sungguh wajar dan membawa keuntungan. Coba, sudah berapa juta penulis dan musisi di dunia ini yang mendapatkan inspirasi dari sesuatu bernama kesedihan? Kadang-kadang saya sedikit geram juga memperhatikan media sosiyel yang dikuasai generasi milenial ini dengan pameran kebahagiaan dibuntuti kepsyen ‘bahagia itu sederhana’ dan lain sebagainya. Padahal mah belum tau juga ya, hidupnya memang sebahagia itu atau tidak. Mengapa mereka tak sering juga memamerkan kesedihannya?

Dan tibalah saya pada sebuah pernyataan bahwa saya tumbuh dalam entitas dimana kesedihan dianggap hal yang lebih privat daripada kebahagiaan, dimana kesedihan bukanlah sesuatu yang lumrah, bahkan beberapanya diajarkan untuk menghindari kesedihan dari kecil “gaboleh nangis ya, kan kamu anak pinter….” padahal apa iya orang pintar itu tidak boleh menangis, wahai netizen? Rasanya saya ingin sekali berteriak kepada orang-orang “menangislah… menangislah!” ya tapi nanti nilai kewarasan saya berkurang di mata para pemberi label alias manusia. Ndak mau ya, saya masih mau bersosialisasi supaya saya jadi bagian dari pemberi label tersebut. Hehehehe.

Jadi begini saja, dunia ini kan katanya sudah menyedihkan, apa perlu kita merayakan kesedihan itu lagi? Sekali lagi jawaban saya, tergantung. Kalau hidupmu dirasa menyedihkan terus, maka carilah kebahagiaan yang katanya sederhana itu. Atau kalau hidupmu kelewat bahagia dalam jangka waktu yang lama, maka rabalah kesedihan. Karena ada yang namanya Tawaazun dalam islam yang berarti keseimbangan di antara dua jalan yang saling bertentangan. Kalau dari belahan Tiongkok, itu disebut Yin Yang. Walau katanya (daritadi katanya terus ya?) hidup ini adalah roda yang tak pernah berhenti berputar, tapi menurut saya sih tak ada salahnya juga kalau sebagai manusia, kita yang berusaha memutar roda tersebut supaya kita tidak diam di tempat.

Karena menyeimbangkan itu perlu, maka bisa dimulai dari menyedihkan kebahagiaan dan membahagiakan kesedihan. Halah, ribet ya. Begitulah.

Terakhir, mau tau apa yang lebih sentimentil menurut saya dari menikmati kesedihan? Buat saya, ia adalah sebuah ruang untuk memberi nafas pada sesuatu. Saya selalu belajar merasakan dari situ. Kesedihan seperti laut, ia adalah tempat ketelanjangan perasaan. Padanya saya bisa berteriak tanpa bersuara dan bisa merasa mati tanpa perlu hidup. Kesedihan adalah rumah dari segala gelak yang pernah diukir secara paksa.

Dan saya akan pulang pada kesedihan itu.

Jatuh cinta kedua

Beberapa bulan belakangan saya sibuk mencari sesuap nasi dengan bekerja di sebuah lembaga internasional yang fokus pada bidang perlindungan anak. Kerjaan saya setiap harinya adalah mengunjungi paud-paud di Jakarta Utara dan bercengkrama dengan manusia-manusia pritil alias anak-anak kecil sekaligus untuk pengambilan data.

Walah, biarpun ini bukan pertama kalinya saya berurusan dengan anak-anak, namun seperti yang semua spesies di dunia ini tau, anak-anak adalah makhluk paling gak bisa ditebak sedunia. Tapi biarpun begitu, gak ada orang dewasa yang gak mau lagi mengulang masa anak-anak mereka; ketika menangis kencang boleh dilakukan di tempat umum, ketika masalah terberat hanyalah perkara harus tidur siang, dan ketika berlaku buruk gak akan diberikan sanksi sosial.

Eh sebentar,

Saya menulis ini untuk apa sih?

Ah ya, saya mau menyampaikan kepada diri saya sendiri kalau setelah berkali-kali terjun di dunia anak-anak, saya semakin sadar kalau saya telah menemukan jatuh cinta saya yang kedua, yaitu kepada anak-anak, setelah yang pertama, menulis. Pernah gak kalian ngerasain ketika kalian melakukan sesuatu, berulang-ulang, namun kalian gak akan pernah bosan? Kalian merasa itu adalah sesuatu yang membuat kalian berkembang, dan tanpa itu kalian akan menjadi kosong. Pernah gak? Iya, begitulah perihalnya saya dengan anak-anak dan menulis.

Apa yang saya rasakan belakangan adalah saya menggebu setiap pagi sambil berpikir “anak-anak kayak gimana ya yang bakal saya temuin hari ini? Apa ya yang bisa saya lakukan sama mereka?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bakal bikin saya gak sabar untuk melakukan pekerjaan saya. Dan bener aja, sesampainya ketemu mereka, waaaah, bahagianya saya kadang berada di ubun-ubun sampai saya mengucap syukur berkali-kali karena masih diberikan kesadaran untuk mengerjakan apa yang saya senangi.

Tapi, gak selalu saya bahagia terus. Kadang, ada hal-hal kecil yang bikin saya menangis sebelum tidur kalau ingat cerita anak-anak itu. Pernah diperkosa, dipukul orangtua pakai balok kayu, atau melihat bapaknya selingkuh lalu sering menampar ibu. Cerita-cerita seperti itu yang selalu bikin saya ngilu, dan kadang bikin saya kepikiran sampai gak bisa tidur sambil berandai-andai tentang apa yang bisa saya lakukan untuk anak-anak seperti mereka.

Realita-realita brengsek macam itu yang menyeret saya untuk mengasihani diri saya sendiri. Kalau punya kesenangan jangan mau enaknya doang dong, apa yang bisa dilakukan untuk setidaknya meminimalisir tindakan kebinatangan itu? Bahwasanya pekerjaan saya yang belakangan ini membuat saya sadar, mungkin, penemuan passion tersebut tidak perlu saya umbar-umbar kalau saya belum bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat di bidang itu. Bahwa ternyata saya masih egois, saya tau apa yang saya senangi tapi hanya menggunakan itu untuk pengembangan diri saya sendiri, padahal semestinya saya memakai itu untuk membawa kebermanfaatan bagi orang banyak. Bukankah hidup perihal bagaimana keberadaan kita berguna untuk sesama?

Dan apabila besok lusa saya gak mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan ini lagi, mungkin inilah waktu yang tepat untuk berbenah diri. Berkaca. Bertanya. Apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi bermanfaat dalam jatuh cinta saya?

Betapa beberapa tempat memang punya arti tersendiri dalam hidup

Diantaranya akan membuat saya tersenyum sungging ketika diingat, dan sebagiannya lagi membuat saya merenung serta meringis kecut, direnteti perasaan menyesal dan tidak.

Tempat-tempat itu mungkin tidak sengaja saya temui, seperti sebuah entitas antah berantah yang bahkan namanya saja sama sekali asing di telinga. Sebut saja Besuki, sebuah entah yang tersimpan di hati kecil saya ketika melakukan perjalanan dengan dua teman lelaki bodoh dan slengean. Atau Masawah, sebuah entah yang lain yang selalu berhasil membuat saya jatuh terhadap cerita selama satu bulannya.

Tempat lain memang sengaja saya datangi, saya singgahi, dan tanpa saya sadari menjalar ke dalam perasaan.

Ia adalah Jatinangor, sebuah wajah dengan senyum kembang sederet gigi, bahak tawa, kusam kusut, dan sembab penuh air mata. Tak bisa lagi saya deskripsikan Jatinangor dengan abcdefghijklmnopqrstuvwxyz karena ia adalah saksi berkembangnya saya menjadi saya. Yang menemani saya memahami Zarathustra hingga dini hari, yang membangunkan saya untuk mengajar bahasa inggris di tengah huru-hara tugas kampus, yang menyeret saya kepada manusia-manusia maha brengsek dan menyenangkan, dan yang membuat saya jatuh bangun jatuh bangun karena perasaan. Tempat itu adalah Jatinangor, selalu Jatinangor, yang mengambil beberapa bagian dalam hati dan kepala.

Hati saya juga punya fragmen untuk Jakarta, ruang yang kerap membuat saya waras dan gila sekaligus. Jakarta adalah apa yang saya ciptakan untuk menyadarkan diri bahwa satu-satunya yang membuat para homo ekonomikus bertahan hidup adalah harapan. Dari Jakarta saya hidup kemudian mati kemudian hidup lagi. Setidaknya, begitulah cara Jakarta menjungkirbalikkan saya.

Lalu, Serang. Bagian paling pertama dalam peremajaan. Tentang menjadi telinga dan keras suara. Menjadi teman, kakak, adik, ibu, ayah. Yang membuat saya mudah dan susah tidur. Tiga tahun paling tak bisa ditebak karena banyak sekali pengalaman.

Pun, Thailand. Yang selalu saya nantikan. Ia adalah badut berhidung bundar di tengah pasar malam. Bahwa di tengah gelap selalu ada yang membuat tertawa. Satu bulan setengah paling bahagia menjadi warga negara asing. Thailand selalu menjadi pengingat bahwa kebaikan adalah bahasa universal dan bagaimana menghadapi perbedaan yang tak pernah sama seperti di buku kewarganegaraan dulu.

Hati saya pula selalu tersisa untuk Madasari, Menganti, Parai, Cikuray, Papandayan, Prau, Sindoro, dan Gede. Mereka adalah apa yang selalu menelanjangkan perasaan. Yang membuat saya mengingat, merancang, meracau. Yang selalu menyadarkan kalau ada entitas paling Maha yang lebih besar dari apapun, dan saya hanya titik kecil dari segala yang Ia ciptakan. Saya adalah apa, bukan siapa, di hadapanNya.

Saya sadar, betapa beberapa tempat memang punya arti tersendiri dalam hidup.

Betapa mereka akan terus mengingatkan kalau hidup adalah tentang perjalanan-perjalanan kecil yang tetap membuat kita menjadi manusia.

 

Menulis bebas

1

Belakangan ini saya benci melakukan basa-basi. Kegiatan itu sangat menguras energi untuk memproduksi kalimat normatif dan senyum yang disungging-sunggingkan. Mungkin ternyata saya butuh istirahat dari menjadi adaptatif, karena layang-layangpun akan tiba pada situasi menyangkut di pohon, atap, atau kabel listrik.

2

Saya sedang nyaman dengan bermonolog. Saya akan merekam omongan saya menggunakan perangkat canggih abad ini; telepon pintar. Saya akan berbicara apa saja; perihal kegiatan saya satu hari penuh, perihal perasaan yang sedang saya alami, atau perihal pendapat saya mengenai sesuatu. Saya mengeluarkan semuanya; setelah itu rekaman monolog tersebut akan saya dengarkan ulang. Mungkin saya sedang bosan dengan menulis dan ternyata monolog adalah pengganti sementara yang tepat untuk meluapkan perasaan. Kadang kamu tak perlu orang lain untuk bercerita, kan?

3

Kepala saya masih menjadi gudang terjorok di dunia. Ia terus memproduksi barang-barang yang sudah tidak bisa dipakai dan segala yang mungkin dilupakan namun masih bisa digunakan. Saya tak mampu membersihkan walaupun sapu, kemoceng, pengharum ruangan sudah tersedia di hadapan. Saya tak mampu, atau tak ingin. Saya tidak paham.

4

Sementara pikiranmu jelas dan mempunyai alur, punya saya kok rumit sekali. Ia lapang dan bebas untuk diisi apapun. Ia tak sesederhana kalimatmu yang berkali-kali kau teriakkan. Pikiran saya mengambang; dan di sela-sela itu masih terpajang bau tubuhmu, walau akan saya jatuhkan atau saya peluk hingga saya padam.

5

Saya butuh menjadi puas. Walau saya tau bahagia bisa didapat dari hal-hal sederhana, namun saya butuh merasa puas. Mungkin bisa saya dapat dari berjalan jauh sendirian, menerbitkan buku, atau pada akhirnya saya bisa mendaki gunung lain lagi hingga sebelum saya memejamkan mata, saya akan berucap syukur karena saya sungguh puas atas sebuah hal yang sudah saya lakukan.

6

Perasaan saya tak butuh dipahami, tak perlu dibalas, tak usah dipikirkan. Saya tau kalau tak semua hal mesti resiprokal. Mungkin saya butuh ketidakadilan.

7

Saya selalu sedih seusai mendapat senang. Saya lupa kalau hidup adalah lingkaran yang tak pernah berhenti berputar.

Mengapa?

Mengapa kita mati-matian mencintai manusia, berapi-api bilang berusaha mencintai dengan tulus, asalkan seseorang itu bahagia karena titik paling tinggi mencintai adalah ketika kita tidak lagi memikirkan perasaan sendiri.

Mengapa kita mati-matian mencintai manusia, padahal manusia banyak sekali maunya dan sulit dipahami.

Mengapa tidak kita mati-matian mencintai Tuhan, tak perlu berapi-api untuk mencintaiNya dengan tulus karena Ia tak pernah minta apapun selain kebaikan dan kepercayaan bahwa Tuhan selalu mencintai kita walaupun kita abai menyapanya sesekali.

Mengapa tidak kita mati-matian mencintai Tuhan, padahal Ia selalu ada, dekat, dan memberi kita napas untuk mencintaiNya.

Mengapa tidak kita mati-matian mencintai Tuhan dengan titik tertinggi karena ketika kita bahkan tidak lagi memikirkan diri sendiri demi mencintaiNya, Ia akan sepenuh hati memberi yang paling baik untukmu. Kehidupan indah setelah kematian.

Bukankah kita semua akan mati?

Mengapa kita mati-matian mencintai manusia, yang mungkin tak pernah memberi kita apa-apa.

Perjalanan

Bagaimana mendefinisikan perjalanan?

Untuk beberapa keadaan, saya bukanlah seseorang yang selalu memegang prinsip que sera-sera dan akan berpikir paling sederhana guna melanjutkan hidup. Saya kerap berkelana dengan pikiran-pikiran saya sehingga memunculkan hasil akhir macam ‘hidup kok gini amat ya’ atau ‘susah ya jadi manusia’ dan sebagainya dan sebagainya.

Tapi sebenarnya hidup memang tentang yaudah jalanin dulu aja, wong spesies-spesies serakah ini sudah terlanjur diturunkan ke bumi, mosok mau maksa dibalikin lagi? Kan ndak. Dan pada akhirnya pun yang kita lakukan hanyalah berjalan. Kita semua harus melakukan perjalanan. Apa itu? Saya juga tidak tahu.

Tiap-tiap kita mungkin berbeda mendefinisikan perjalanan. Saya akan mengartikan perjalanan saya dengan bagaimana saya bisa melangkahkan kaki dan dengan lancar mengucap mama ketika saya berumur dua atau tiga tahun. Lalu berlindung di balik ketiak bapak ketika ada orang besar yang mengajak saya berkenalan.

Saya tumbuh jadi seseorang yang pemalu. Yang tidak akan pernah mengajak bicara duluan, yang insecure dengan tubuh saya yang tambun, yang selalu menganggap diri saya jelek, yang tidak pernah tahu apa yang saya mau. Hingga pada titik yang mungkin tak pernah bisa saya bayangkan; saya dijauhi dan ditertawakan banyak orang.

Sejak saat itu, saya berjalan mundur. Saya menghilang. Saya menjauh dan tak pernah ada keinginan untuk berlari kencang, yang bisa saya lakukan hanyalah berjalan saja. Pada sebuah sudut saya singgah sebentar. Saya menemukan ruang yang membuat saya merasa nyaman, sungguh nyaman, sehingga kenyamanan itu membuat saya takut melintasi perbatasan. Menjadi remaja tanggung yang senang ikut-ikutan teman dengan mimpi yang dimimpi-mimpikan.

Saya mengenali diri saya, mungkin separuh, tapi terkungkung dengan apa-apa yang belum saya ketahui. Yang saya tau saat itu saya tidak boleh berhenti, saya hanya harus terus berjalan. Lalu di tengah-tengah berjalan itu, semakin lama saya menemukan diri saya. Saya berdiri di depan sebuah entitas yang akan mengantarkan saya pada proses menikmati hidup.

Saya memulai semuanya dari sana. Saya berlayar hingga titik paling jauh. Saya mendaki puncak ketakutan saya. Saya melompati batas tertinggi dan sesekali mencoba berlari kencang, biarpun kerap terjatuh. Namun yang saya lakukan adalah kembali bangun dan memutuskan untuk berjalan lagi.

Dan sekarang saya masih berjalan, menjadi seseorang yang senang menertawakan dirinya sendiri. Yang mengerti bahwa penampilan luar dan dalam harus diberi asupan, karena apalah fisik indah namun dangkal berpikir dan sebaliknya. Saya yang belajar bahwa kunci kebahagiaan adalah menerima. Saya yang sudah tidak terengah-engah memahami diri saya. Saya yang tiga perempat mengenali saya—semoga. Dan saya yang sudah sampai pada jalan ini. Sejauh ini.

Lantas apakah perjalanan itu sebuah perubahan? Mungkin iya, mungkin tidak. Buat saya, perjalanan adalah keseluruhan ruang yang pernah kita singgahi. Ia tak melulu maju, tak melulu senang, tak melulu di atas. Perjalanan adalah bagaimana saya sebentar menahan laju untuk kemudian menengok ke belakang. Ia adalah kembali merekam untuk mengingatkan bahwa sebagai manusia, kita sudah sanggup bertahan sejauh ini. Ia juga menjadi tempat berdiam diri karena terlalu jengah terhadap sesuatu. Ternyata, perjalanan adalah saya sendiri. Dan pada akhirnya, perjalanan adalah proses menjadi manusia.

 

Belum habis

: Th

Kepalaku adalah suar yang mungkin tak pernah kamu semogakan;

-koyak ditebas rasa bersalahmu

Sedang kamu menggagu pada tiap rumit yang aku selesaikan

 

Tenangmu hanya butuh kesederhanaan,

Padahal punggungku adalah labirin yang tersesat ditelan lampau

Menggali yang dulu pernah kobar

 

Mungkin benar begini mestinya:

Kita saling memeluk dengan hulu

Bernapas batas

Dan segera habis dalam titimangsa.